Tempat ini mencolok dengan warnanya yang kuning dan selalu ramai. Tiap kali melewati Jalan Pemuda arah Rawamangun, rasanya pengen mampir. Akhirnya ada juga momen pulang malam dan kelaperan, sehabis kerja dan nonton. Masuk ke sini, yang saya tahu nama tempat ini adalah Ropisbak. Ternyata namanya Ropispak Ghifari. 

Mau pesan apa? Bingung! Tempatnya agak berisik dengan musik dan pengunjung yang cukup banyak. Rata-rata pengunjungnya mahasiswa dan sepertinya senang berlama-lama nongkrong. 

Namanya Ropisbak, saya pesan Roti Panggang Nutella Keju. Untuk menu roti sendiri, ada beberapa variasi dari roti panggang manis, roti panggang asin, roti panggang variasi dan roti pisang. Ukuran rotinya standar, empuk dan manisnya kelewatan dalam arti cukup nyaman di perut. Harga rotinya berkisar Rp 11.000,-  sampai Rp 21.000,-. 


Buat saya seporsi roti nutella keju ini cukup mengenyangkan, tapi saya masih ingin menu lainnya. Kali ini saya coba dimsum, pilihan jatuh ke Ayam Kepinting. Dimsumnya lumayab murah murah Rp 15.000,- per porsi dengam isi 4 buah. Dimsumnya lumayan besar dan padat, ngga rugi deh kalau pilih dimsum. Sayangnya perut saya sudah penuh, besok lagi mau cobain lagi menu dimsum lainnya.


Selain menu tadi, ada juga menu Indomie. My hubby pilihnya Indomie Selera Pedas Kornet Keju. Harganya standar mulai Rp 7.000,- sampai Rp 19.000,-. Untuk rasa, menurut my hubby cukup enak dan pedasnya nendang. Buat kamu yang suka pisang, burger, aneka rasa tahu, omelette, aneka pancake, mie ayam bakso dan aneka cemilan seperti otak-otak, kentang goreng dan sosis goreng, ada juga di Ropisbak Ghifari ini.



Minumannya yang disajikan kurang lebih sama seperti tempat kuliner lainnya. Kemarin saya sempat mencoba Ice Lattte Taro dan Ice Latte Green Tea. Rasanya cenderung manis, tambahkan air putih kalau terlalu manis ya. Next-nya saya mau cobain aneka float dan aneka sop buah/durian. Sayangnya kemarin perut saya sudah kekenyangan.






Jakarta, kota yang ngga pernah tidur, mungkin benar adanya. Ini berlaku juga buat keragaman kuliner Jakarta. Salah satu jalan di Jakarta Pusat yang cukup ramai dengan keragaman kuliner adalah Jalan Sabang. Yup, lokasinya yang dekat dari kantor saya, membuat Jalan Sabang jadi salah satu meeting point favorit. Baru-baru ini saya dan beberapa teman lama, yang dulu seprofesi sebagai reporter, berkesempatan reuni kecil. Berdasarkan rekomendasi sana-sini, kami bertemu di Rumate. 

Rumate, tidak lain adalah tempat kuliner yang dipunyai oleh Pak Bondan Winarno yang terkenal dengan tagline "maknyus". Bertempat di Jalan Haji Agus Salim No.18 (jalan Sabang dekat lampu merah arah Wisma Antara), dari luar Rumate memang sedikit menyempil atau kurang mencolok. Dengan dominasi warna merah, Rumate bisa dibilang menyajikan suasana yang sangat sederhana, pengunjung bisa menikmati hidangan berjam-jam dengan sangat nyaman di meja kursi kayu sederhana yang dicat putih, merah dan cokelat. Buat kamu yang ingin merokok, bisa memilih duduk di luar, sedangkan buat kamu yang ingin lebih nyaman, bisa memilih duduk di bagian dalam. 

Sekarang kita ke menu yang disajikan di Rumate. Menunya cukup klasik dan Indonesia. Kenapa klasik, karena bukan menu "nyeleneh" ala anak muda dan nama-nama makanannya juga sederhana saja. Sebut saja kopi tetes Vietnam, pilihan teman saya. Jujur saya bukan penyuka kopi macam ini, cuma saya suka dengan penyajiannya yang unik. Ada juga pilihan minuman klasik lainnya, seperti Saparella, minuman dengan sarsaparila yang enak dinikmati dengan es batu. Minuman ini ternyata diproduksi di Jawa Tengah, pantas saja saya sering ditawari ini saat berkunjung ke Jogjakarta beberapa waktu lalu. Pilihan minumannya juga masih banyak lagi, salah satu yang saya pilih hampir setiap kali kulineran, apalagi kalau bukan es teh tarik. Lagi-lagi saya suka dengan penyajian teh tariknya. Buihnya menggoda sekali.

Lalu kita ke menu makanan. Sejujurnya banyak menu utama yang menarik hati, ada nasi ulam betawi, nasi ulam dendeng, dan nasi ulam ayam goreng. Ada juga pilihan menu nasi hainan, rendang, dendeng, soto Padang, nasi bakar cakalang dan ayam lengkeuh. Asli nih kalau saya mampirnya bukan malam, pasti mencoba nasi bakar cakalang. Kenapa? Soalnya, saya sempat melirik pesanan meja di sebelah kami duduk yang pesan makanan itu, hmmm aromanya mengoda sampai meja kami hahaha. Berhubung kami bertemu juga sekitar jam delapan malam, jadilah kami memesan cemilan, seperti roti butter, lumpia Jakarta, dan ketan bumbu. Ketan bumbunya juara! Disajikan hangat dan suka banget sama suwiran ayamnya yang banyak, plus bumbu bubuknya. Awalnya saya pesan ini untuk dimakan bersama, tapi ternyata saya paling banyak menghabiskan ketan ini.


Buat kamu yang mau nongkrong sampai jam dua pagi, Rumate pas buat pilihan. Lokasinya yang di pusat kota juga membuat saya ngga khawatir pulang dari sini.
Siapa yang tidak suka mie? Rasanya hampir semua orang suka dengan jenis makanan yang satu ini. Yup, termasuk saya dan keluarga, apalagi saya besar di Malang, kota yang identik dengan cwie mie atau mie. Akhir minggu kemarin, saya mencoba satu tempat mie di wilayah Pondok Kelapa Jakarta Timur, namanya "Mie Time". Tempat ini sebenarnya sudah lama ada, saudara dana bahkan zomato merekomendasikan Mie Time. Hanya saja, beberapa kali saya cari, selalu tersasar. Berbekal Google Map, malam kemarin akhirnya ketemu juga tempat ini. Ternyata tempatnya cukup mudah dicari, namun perlu kejelian, karena tempat kuliner berkapasitas sekitar 25 orang ini ada di dalam perumahan. Tepatnya di Jalan Taman Enau Blok L4/34, Pondok Kepala, Jakarta Timur. 

Mie Time punya menu unik, yaitu mie sehat yang diolah dengan sayuran. Beberapa menu mie yang bisa kamu pesan adalah orange noodle yang dibuat dari wortel, red noodle yang dibuat dari buah bit, green noodle yang dibuat dari brokoli, dan pink noodle yang dibuat dari buah naga. Ada juga black noodle yang diolah dengan tinta cumi dan original noodle. Untuk melengkapi pesanan, kamu bisa berkerasi dengan rasa mie pilihanmu, yaitu cheesy untuk ekstra keju, rawit untuk style pedas, yamin dengan tambahan kecap untuk style manis, atau mau yang standar saja plain. Setelah memilih style yang kamu mau, tingkat kepedasannya pun bisa kamu atur sampai level 4. Belum puas, tambahkan toping pilihan dengan bakso, jamur atau pangsit goreng.

Pilihan saya, cheesy red noodle dengan bakso. Mie muncul tidak berwarna terlalu merah seperti yang saya bayangkan, bahkan cenderung ungu keabu-abuan. Mie disajikan dengan taburan keju, potongan ayam dan sawi, juga bakso yang disajikan terpisah. Karena pilihannya cheesy, red noodle terasa sedikit nyemek atau lembek. Mienya punya rasa manis gurih, dengan tekstur mie yang empuk. Saya suka potongan ayamnya, warnanya putih beda dengan mie ayam kebanyakan. Mungkin lebih mirip mengingatkan saya pada potongan ayam yang ada di cwie mie, hanya saja dengan potongan  lebih besar. Sayangnya, saat kesini pilihan toping jamurnya sudah habis, jadi penasaran seperti apa kombinasi mie da jamur ala Mie Time.

Menu kedua pilihan saya adalah orange noodle. Sengaja pilih mie style plain untuk mengetahui rasa asli mie sayuran di Mie Time. Mie kali ini keluar sesuai bayangan, warnanya agak orange. Begitu dikunyah, tak jauh beda dengan mie sebelumnya, teksturnya empuk, enak dengan rasa sedikit lebih manis, yang saya rasa keluar dari wortel. Porsinya juga cukup, untuk mie seharga sekitar Rp 25.000,- per porsi. 

Selain mie, tempat ini juga punya menu lainnya seperti roti bakar dengan pilihan rasa cokelat, keju, strawberry, kacang dan Nutella. Ada juga menu Cheesy Chicken, calamari, sosis goreng, kentang goreng dan Onion ring. Untuk minumannya bisa pilih aneka juice seperti juice, Miilk Tea, Thai Tea, Green Tea dan Chocolate yang bisa dipilih hot atau disajikan dengan ice.

Mie Time bisa kamu cari tahu lewat Twitter dan Instagram @officialmietime

Selamat bereksperimen dengan mie sayur pilihanmu.


#CeritaKuliner #KulinernyaBastina
Le Rose Romana
Pizza, makanan khas Italia yang belakangan sudah jadi menu keluarga di Indonesia. Konon, pizza yang ada di Italia berbeda dengan pizza yang ada di Indonesia. Saya sendiri belum pernah ke Italia, jadi tidak tahu pasti apakah benar pizza di Italia tidak setebal pizza yang ada di Indonesia. Dari kulineran beberapa waktu ini, saya memang menemukan kenikmatan berbeda antara pizza yang tebal dan pizza yang tipis cenderung crunchy. Saya lebih suka yang tipis, topingnya terasa lebih dominan daripada adonan rotinya.

Salah satu tempat kulineran yang memikat saya sebagai penyuka pizza adalah Pizza Express. Tempatnya cukup nyaman, dengan desain minimalis dan pelayanan yang juga cukup cepat. Menu pertama yang dicoba adalah Le Rose Romana, pizza tipis yang crispy dengan toping beef bacon, potongan sosis cincang, ayam, basil, keju mozarella dan dilengkapi bresaola atau daging sapi kering dengan rasa asin dan daun basil segera. Le Rose dibuat dengan inspirasi pizza ala Roma. Saya suka paduan topingnya, agak sedikit asin, tapi tetap ada rasa fresh dari pasta tomatnya. Menariknya, ada aroma tersendiri dari basil segar, saat menikmati pizza ini. Selain itu, rotinya pun enak, tipis, crispy di bagian pinggir, denga tetap ada tekstur empuk (tidak terlalu crispy) di bagian tengah pizza.
Funghi Di Bosco


Menu pizza kedua yang saya pilih, Funghi Di Bosco. Pizza Classic ala Pizza Express dengan toping jamur portobello, garlic oil dan keju mozarella. Suka banget sama potongan jamurnya yang beradu dengan gurihnya keju dan segarnya pasta tomat. Kalau kamu ingin menambah toping juga bisa.

Kamu bisa pilih regular toping seperti jamur atau telur, deluxe toping seperti beef peperoni, beef bacon atau ayam, bisa juga super deluxe toping seperti smoked salmon, fresh mozarella atau tuna. Untuk kisaran harga pizza di Pizza Express antara Rp 70.000,- sampai Rp 130.000.- per porsinya. 

 
#kuliner #CeritaKuliner #KulinernyaBastina #PizzaExpress #Pizza ExpressIDN

Belakangan lagi suka banget sama salah satu cafe baru yang ada di area Sarinah Thamrin Jakarta. Namanya, Ruang Tengah. Secara konsep menarik, tempatnya tenang, seperti di ruang tengah rumah, dengan desain minimalis. Setiap kali kulineran disini, konsumen mendapatkan minuman pembuka, mineral water with cucumber aka air putih dingin segar dengan campuran irisan timun.

Dari menu, saya suka beberapa masakan yang disajikan di Ruang Tengah ini. Sebut saja nasi goreng ijo, mie goreng dan nasi gurih cabai ijo. Rasanya cukup sepadan dengan harga yang ditawarkan dan disajikan hangat dengan tampilan yang menggugah selera makan. 

Kita ke nasi goreng ijo, yaitu nasi goreng hijau diolah dengan ayam dan sayur, yang disajikan dengan telur dadar, emping, acar dan taburan bawang goreng diatasnya. Hmmm nasi goreng ini disajikan  menggugah selera. Nasinya empuk, tidak pera seperti nasi goreng kebanyakan, tapi juga tidak lembek. Nasinya harum, gurih dan olahan bumbu bersama sayur dan potongan ayamnya pun pas di lidah, ngga terlalu asin dan ngga manis juga. Keunggulannya itu tadi, harum dan empuk. 

Selain nasi goreng ijo, kamu wajib juga mencoba mie goreng. Bentuk mie yang disajikan agak gendut, teksturnya kenyal, dan rasanya sedikit manis. Mie goreng diolah dengan udang goreng, bakso ikan dan telur orak-arik, serta berteman kerupuk udang dan acar. Rasanya juara, apalagi buat kamu yang terbiasa dengan mie yang sedikit manis. Ini pas banget di lidah.

 

 Masih bernuansa ijo, pilih juga nasi gurih cabai ijo. Pada dasarnya sama seperti olahan nasi goreng, tapi nasi gurih ini diolah dengan bumbu cabai hijau, ikan teri, udang, disajikan dengan telur ayam diiris panjang-panjang, kerupuk ikan dan taburan bawang goreng. Asli saya sampai ngiler nulis ini, soalnya kebayang harumnya cabai dan ikan asin, hmmm bikin laper. Buat kamu yang tidak terlalu suka pedas, ngga perlu khawatir, rasanya tidak terlalu pedas. 

Ada beberapa menu lagi yang sebenarnya sempat saya coba, ada tahu telor jembatan lima pisang goreng menantu dan sosi embok. Tahu telor, makanan khas jawa timur yang menjelma jadi menu kuliner cafe. Aslinya,tahu yang digoreng bersama telor, disajikan dengan tauge, irisan timun, potongan lontong, kacang tanah dan kerupuk, plus disiram bumbu petis kacang. Kalau versi K5 (kaki lima) tahu telor disajikan dengan bentuk ngga cantik dan ada juga yang dipotong-potong. Untuk sajian di Ruang Tengah lebih elegan di mata, rasanya enak, tapi saya lebih suka versi K5. 



Untuk sosis embok, adalah sosis sapi ukuran jumbo dengan mozarella didalamnya. Enak sebagai cemilan berteman mayonaise dan saus sambal saat menikmatinya. Kalau pisang goreng menantu, adalah pisang goreng yang disajikan dengan brown sugar dan keju.


Ruang Tengah cukup enak dijadikan tempat meeting kecil, ngobrol santai dan makan siang. Pesan saya, agak bersabar setelah kamu memesan makanan, karena beberapa menu ada yang disajikan agak lama. Plus, sebaiknya kamu memilih waktu tidak terlalu malam kalau akan ke Ruang Tengah. Soalnya, saya pernah datang sekitar jam 8 malam, beberapa menu sudah tidak komplit lagi. 
Hangout atau nongkrong bersama teman seperti sudah menjadi kebiasaan rutin yang tidak bisa terlewatkan. Nah, kalau kamu, apa saja syarat tempat yang asyik buat nongkrong? Kalau saya, sukanya tempat yang nyaman, tidak terlalu berisik, makanan enak, dan harga bersahabat, plus dekat kantor. Maklum, kalau weekdays agak sulit untuk menjangkau tempat kulineran atau nongkrong yang jauh dari kantor, apalagi saat dateline kurang bersahabat.

Sukanya kemana? The People's Cafe yang ada di Grand Indonesia, lantai 5. Tempat kuliner punya Ismaya yang satu ini, punya desain yang santai, anak muda banget dan enak buat ngobrol berlama-lama. Menunya juga enak dengan harga yang masih masuk akal. Salah satu menu favorit saya kalau kesini adalah Mac and Cheese. Dari namanya sudah ketebak, cemilan yang tidak lain maccaroni keju, maccaroni berbentuk seperti telepon (begitu saya menyebutnya waktu kecil) yang direbus, kemudian diolah bersama keju dan digoreng dengan kulit yang crispy. Disajikan padat dan begitu mac and cheese-nya dibelah, nyuuusss kejunya pun melted. Makin suka, karena tiap kali pesan ini, selalu disajikan hangat. Dengan colekan mayonaise atau saus sambal, dijamin kamu sanggup menghabiskan 1 porsi Mac and cheese yang isinya sekitar 6 potong.

Untuk menu utama, kamu bisa pilih Mie Tek-Tek. Mie Tek-Tek, adalah mie goreng ala mie jawa, diolah dengan ayam, telur orak-arik, dan sayuran. Rasanya cenderung manis. Uniknya, mie ini disajikan di atas penggorengan kecil dengan kerupuk dan acar sebagai pelengkap. Buat saya yang orang Jawa tulen, cukup suka dengan Mie Tek-Tek ini. Rasanya cukup membuat pelipur kangen sama kampung halaman.

Uniknya The People's Cafe, tempat ini punya makanan ala kaki lima atau K5 yang naik kelas, tampilannya cantik dan rasanya juga enak. Beberapa rekomendasi antara lain Mie Nyoya Bun, yang tidak lain adalah mie ayam. Atau kamu bisa juga memilih Sop Bakso Tahu Isi, yang tidak lain bakso dan tahu isi dengan kuah kaldu yang gurih, hangat, dan disajikan menark di dalam sebuah cangkir.

Selain di Grand Indonesia, The People's Cafe juga ada di Mall Kota Kasablanka. Ayo, mau janjian nongkrong sama siapa? Teman kan ... atau mantan ? 

#ceritakuliner #kulinerjakarta #kulinernyabastina follow my IG @dewibastina 
Buat gw, keju mau dimasak gaya apapun wajib dicobain, mau itu diolah dalam roti, pasta atau apapun. Nah, kemarin gw sempat mampir Pizza Hut dekat kantor. Seperti biasa, tengah bulan seperti ini membuat kita harus cermat membelanjakan uang, bukan? Pengen makan enak di tempat ini, pilih saja menu Sensai Delight yang kebetulan punya pilihan menu baru. Salah satunya adalah menu mac and cheese dan bolognaise fusilli. Mac n cheese tidak lain adalah macaroni yang dipanggang pakai irisan sosis sapi, saus pepperoni keju dan dilapisi keju mozzarella. Sausnya lumayan banyak, istilahnya ngga banjir, tapi masih bisa buat dicolek-colek. Kalau mengharapkan melted cheese-nya dominan, tentu tidak, tapi lapisan keju mozzarella cukup bikin gemes. Kalo pas disendok masih ada sensasi melted-nya. 



Menu baru lainnya bolognaise fusilli. Ini kurang lebih sama dengan spaghetti dengan bolognaise, hanya saja pastanya menggunakan fusilli dan dipanggang. Jadi, fusilli dipanggang dengan taburan daging sapi cincang, saus daging tomat, dilapisi keju mozzarella. Suka banget sama taburan daging sapi cincangnya, banyaaaak dan pas banget buat perut yang laper. Sausnya tidak terlalu istimewa, tapi cukup “juara” di mozzarella-nya. Kalau soal harga ngga terlalu dibahas, cukup buat kantong di tengah bulan ini. 
Demenu Resto, ini adalah salah satu resto yang ada di Grand Indonesia Jakarta, yang sebenernya sudah lama pengen gw cobain. Penasaran karena namanya yang unik. Demenu, semacam pelesetan dari The Menu. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi sepintas nyaman buat nongkrong. Resto yang interiornya didominasi dengan nuansa hitam dan cokelat ini, punya beberapa pilihan menu yang ternyata bisa untuk personal dan keluarga. Ada pilihan menu pembuka seperti Lumpia Garing dan Roti Jala-Jala, ada juga makanan berat seperti menu ikan, sapi, nasi, sayur, sop dan ayam.

Kemarin, kebetulan gw lagi cari perlengkapan kantor di Ace Hardware Grand Indonesia. Makan siangnya sudah pasti cari yang di sekitar situ juga dan masuklah ke Demenu. Aslinya ngga terlalu suka sama makanan pedas, tapi kok ya menu nasi goreng roa-nya seperti menarik hati. Menurut pelayannya, rasa pedasnya tidak terlalu ekstrim dan jadilah makan siang nasi goreng roa. Nasi gorengnya unik, warnanya sepintas mirip nasi merah, cokelat kemerahan. Rasanya gurih cenderung asin, karena ada campuran ikan roa didalamnya. Lauk pendampingnya juga tidak kalah enak, ikan asin goreng kering dengan sambel merah. Tadinya takut pedas, ternyata malah segar di mulut. Porsinya cukup pas, tidak terlalu besar, tapi tidak terlalu kecil juga.


Buat Anda yang suka menu nasi, ada juga menu lainnya seperti nasi goreng ikan asin, nasi lemak Malaka, nasi rames tauco, nasi Bali dan menu lainnya. Menu lainnya ada juga sop buntut, asam-asam iga, kari ayam nusantara, dan menu lainnya.