Cinderella Ngga Melulu Tentang Pernikahan Bahagia Selamanya

Kenapa film Cinderella selalu diartikan tentang pernikahan bahagia selamanya? Setidaknya itu komentar yang muncul di timeline sosial media. Ada bahkan yang bilang, bekali dulu anak-anak sebelum menonton film Disney terbaru yang sangat sangat sangat happening belakangan ini. Anehnya, pernikahan bahagia selamanya bukan jadi pesan moral di film yang dibintangi Lily James dan Richard Madden. Film Cinderella versi terbaru ini cukup imbang dengan kondisi saat ini. Pasalnya, di awal film diceritakan tentang sosok Cinderella kecil yang ditanamkan sifat baik, sayang alam, sayang binatang, ringan tangan dan menjadi perempuan yang pemberani dalam menghadapi segala hal. Cinderella pun bertumbuh menjadi perempuan yang berpikir positif, suka membaca dan belajar. Jelas ini sosok yang sedikit berbeda dengan cerita Cinderella di buku-buku sebelumnya, yang lebih menonjolkan sisi tak mampu berkutik dengan penindasan dan kesengsaraan atau pasrah.

Film Cinderella versi manusia, begitu Nadine (anak saya) bilang, punya cerita yang memang tidak terlalu berbeda dengan cerita yang biasa kita baca. Cinderella diceritakan kehilangan orang tuanya dan harus menerima keberadaan ibu tiri (Cate Blanchett) dan dua sudara tirinya. Dia dijadikan "pembantu" oleh keluarga tirinya. Tapi, bukan penderitaan dan kepasrahan yang ditonjolkan. Cinderella justru menjadikan semua itu sebagai cara ia berlari dari kepedihan hidupnya. Klise mungkin ada perempuan yang sekuat itu, paling tidak begitulah twist sederhana versi sutradara Kenneth Branagh, jika ingin dibandingkan dengan versi terdahulunya. Cinderella pun diceritakan tidak ambisius melihat permikahan. Dia ingin pergi ke pesta dansa hanya karena dia ingin merasakan bertemu dengan orang-orang di luar lingkungan rumahnya. Dia polos, bahkan tidak mengetahui sosok Pangeran.

Selain dari sisi cerita, film Cinderella juga tetap mempertahankan ciri khas Cinderella dari segi wardrobe. Baju yang dikenakan para tokohnya masih sangat mirip dengan buku cerita, gaun Cinderella berwarna biru mewah, sementara ibu tirinya elegan dan saudari-saudari tirinya ditampilkan menor. Kereta labu dengan para pelayan, kusir dan kuda-kudanya pun digambarkan mirip dengan versi buku cerita. Hanya peri pelindungnya saja yang dibuat sedikit berbeda. Biasanya peri pelindung adalah seoarang ibu peri dengan perawakan sedikit gemuk. Di versi kali ini, peri pelindung yang diperankan Helena Bonham adalah sosok perempuan dewasa dengan gaun yang cukup wah.  

Untuk adegan favorit, hmmmm suka tidak suka memang suka dengan adegan dansa antara Cinderella dengan pangeran. Suka banget sama nuansanya, suasananya dan tautan pandangan mata keduanya memang bikin penonton berdecak "aaaaaa". Adegan saat pencarian terakhir pemilik sepatu juga cukup bikin gemas,apalagi pas Cinderella bilang ke pangeran "kalau semuanya sudah diketahui, apakah kamu akan menerima apa adanya?" (mungkin kalimatnya ngga sama persis ya). Mungkin terkesan murahan, tapi bumbu roman ini pas dalam penyampaiannya dan ngga terkesan mengumbar romantisme akan cinta bahagia selamanya. Eits, satu lagi adegan yang disuka adalah saat pertemuan pertama Cinderella dengan pangeran di hutan, jelas perempuan ini punya sikap tegas ditengah kepolosannya. 

Hmmm rasanya kalau diceritakan semua jadi ngga seru kan ya? Mumpung masih hangat, ikutan deh arus mainstream nonton film ini. Ngga usah terlalu dipikirkan film ini mengajarkan tentang pernikahan bahagia selamanya. Perhatikan saja, film ini bahkan tidak menonjolkan pesta pernikahan mewah meriah. Kalau kita bisa melihat dari sisi yang lain, justru film ini mengajarkan bagaimana seorang perempuan sebaiknya punya keberanian dan sifat baik hati, karena pada akhirnya semesta (mungkin yang dikiaskan sebagai magic di film ini) akan berpihak pada mereka yang punya sifat positif.


#Cinderella #CinderellaMovie 
Ikuti review film Cinderella di I Radio Network dan www.iradiofm.com