"Berpikir sebelum bertindak", quote yang diucapkan oleh Caesar, pemimpin kelompok kera, di awal film "Dawn of The Planet of The Apes" rasanya sangat menggambarkan keseluruhan film ini. Soalnya, kita ngga pernah mengetahui apa yang ada dalam pikiran para kera yang seringkali dijadikan bahan eksperimen penelitian oleh manusia. Gw bukan pencinta banget binatang, tapi gw termasuk ogah kalau disuruh bedah-bedah binatang, bahkan buat lab biologi sekalipun. Diceritakan, pada suatu masa dunia berada dalam kondisi sekarat. Manusia di ambang kehancuran karena wabah virus Simian, virus ini bercikal.bakal dari eksperimen atas kera. Di sisi lain, para kera bersekutu di bawah kepeminpinan Caesar di dalam hutan untuk bertahan hidup. Mereka ini bukan lagi kera biasa, tapi kera yang mempelajari sekelilingnya dan nyaris sama dengan manusia. Bedanya, para kera ini punya prinsip "ape not kill ape" dan ini yang membuat mereka solid.
Pada suatu kesempatan, kelompok manusia makin di ambang keputusasaan. Mereka nyaris kehilangan sumber daya listrik. Mereka harus mengaktifkan sebuah dam atau waduk yang ada di wilayah kekuasaan kelompok kera. Saat mengeksplorasi hutan, manusia dan kera bertemu, bersitegang dan nyaris beradu kekuatan. Caesar mencegah perseteruan ini dan menegaskan wilayah masing-masing kelompok. Tapi gejolak tetap tak terhindarkan, saat Koba, kera kepercayaan Caesar, berambisi membalaskan dendamnya pada manusia.

Menyadari pentingnya sumber daya listrik bagi manusia, memberanikan diri bernegosiasi dengan Caesar dan kelompoknya. Sementara itu, mereka yang tinggal di kamp penampungan bersiaga menyiapkan kemungkinan serangan dari kelompok kera. Maklum, naluri defensif antar kelompok tidak bisa dihindari dan semacam mendarah daging di tubuh manusia. Di sisi lain, Caesar tengah di uji oleh kelompoknya sendiri. Ia percaya kelompok Malcom dan Ellie bisa dipercaya, apalagi Ellie membantu penyembuhan istrinya. Tapi, Koba terus mendesaknya untuk tidak membantu manusia. Keadaan makin memanas karena  terjadi kudeta di kelompok Caesar. Sementara itu, manusia tetap dengan pola pikir superiornya dan merasa para kera lebih bodoh dari manusia. Dendam bertemu kesombongan, bisa ditebak ujungnya adalah peperangan, adu kuat dan pertumpahan darah.

Film "Dawn of The Planet of Apes" arahan Matt Reeves ini sempat memberikan kejutan di awal, dimana penonton dibuat berdegup lewat adegan berburu para kera. Wajah dan mimiknya pun dibuat semirip mungkin dengan manusia. Ini yang bikin serem dan bertanya-tanya gimana ya kalau beneran para kera makin mirip dengan manusia? Ketegangan antara kera dan manusia juga terasa intens di beberapa adegan, terutama di setengah bagian film ke belakang, saat Koba mulai menyerang kamp manusia. Ketegangan makin seru saat Caesar dan Koba bertarung, gimana gitu rasanya dua mahluk buas beradu...sereeem..belum lagi dengan teriakan khas binatang yang dianggap mirip manusia banget ini. Biarpun cukup menegangkan, film yang dibintangi Andy Serkis, Jason Clarke, Keri Russel dan Gary Oldman ini punya jalan cerita yang agak lambat dan mudah ditebak. Konflik-konfliknya sangat biasa, apalagi pas Caesar kembali ke rumah manusia yang mengasuhnya dulu,drama biasa aja gitu. Cuma saja rasa kengerian lo berhadapan sama kera bahkan gorila itu loh yang ngga bisa dibayangkan rasanya. Dari semua unsur film, itu yang gw suka.

Ada satu yang menohok, kutipan-kutipan di film"Dawn of The Planet of The Apes" sungguhnya cukup mencubit manusia. Memang, quote-nya tidak banyak, tapi uniknya quote yang lebih berarti justru lebih banyak muncul dari para kera. Salah satu yang gw pakai untuk menutup review ini adalah "manusia tidak memaafkan" dan bayangkanlah Caesar mengucapkan ini sambil membuka tangannya untuk menerima maaf pengikutnya yang sempat membelot darinya. Wahai manusia berpendidikan di luar sana, sanggupkan Anda memaafkan dan bahkan tidak saling membunuh sebagai sesama manusia ?

Selamat berakhir minggu dan baca juga review ini di www.iradiofm.com

#movie #dawnoftheplanetoftheapes
Makan...makan...makan...apapun acaranya, mau reuni, ngumpul, jalan-jalan, sampai anniversary, harus ada acara makan hehehe. Masih cerita anniversary gw dan partner, kemarin kita cobain salah satu tempat makanan (ala-ala) Jepang, Tokyo Belly. Sebenarnya ini bukan pertama kali kesini. Biasalah...2 partner in curhat gw, Sitta dan Ita yang mengenalkan tempat ini. Rasanya kalau ngga kenal mereka, gw ngga tau nii tempat-tempat makan seru hehehe.

Berhubung ini adalah perayaan ulang tahun, gw selalu memilih menu mie, ini gw lakukan di moment ultah lainnya. Pilihan jatuh ke menu Dry Garlic Ramen. Ramen goreng dengan topping potongan ikan salmon goreng dan kepinting goreng dengan ukuran tidak terlalu besar. Pilihan ramennya ada 3, bisa ramen dengan ukuran kecil, besar atau spicy. Jelas gw ngg pilih yang spicy, tapi yang tipis aja. Porsinya lumayan untuk perempuan, pas dan ngga terlalu kecil, tapi jelas ngga besar hehehe. Jujurnya, gw pilih menu ini karena penasaran sama si little crab dan penyajiannya yang enak dilihat. Rasa? Enak, ramennya kering ngga berminyak dan topping-nya krispy. Jujurnya lagi, kalau boleh porsinya agak diperbesar dikit lagi kok rasanya pas ya hehehe. Gw masih pengen nambah senenernya, tapi kalau pesen 1 menu lagi kayaknya ngga sanggup menghabiskan sendiri.

Nah, partner in love gw pilih menu Sukiyaki Bibimbap. Hmmm gw ngga terlalu paham menu apakah ini, tapi lagi-lagi dari tampilannya menggoda hati suami dan gw (untung tergodanya sama makanan ya). Menu ini terdiri dari nasi putih hangat dengan topping irisan daging sukiyaki dan telor setengah matang, plus bumbunya berwarna cokelat dengan rasa manis pedas yang disiram bersama irisan daging. Penyajiannya yang menarik, di atas mangkok berbahan batu hitam dan bikin nasi terasa panaaaas terus hehehe. Suami gw musti nunggu agak lama buat memulai sendokan pertamanya. Rasanya endeeesss alias enak, apalagi telurnya yang melted. Enyaaaak....enyaaaak....enyaaak...

#tokyobelly #grandindonesia #kuliner #ramen #bibimbap

 

Transformers...rasanya gw ngga pernah merasa puas nonton film Transformers yang versi manapun, termasuk versi terbaru kemarin "Transformers : Age of Extinction". Film ini identik dengan kecanggihan visual effect dan tentunya perempuan canteeeek. Nah soal perempuan ini memang bekalangan jadi risih euy, kayaknya semakin ke sini pilihannya sebatas seksi thok, tapi ngga terlihat smart apalagi kuat. Rasanya cuma Megan Fox aja yang sukses mengambil perhatian. Ngga jauh beda sama yang sebelumnya, visualisasi NicolaPeltz (Transformers 4) se-tipe dengan Rosie Huntington (Transformers 3), perempuan blonde dengan tatapan ala-ala seksi gimana gitu. Karakternya juga "cubitable" alias pengen dicubit banget, dicubit gegara gemes dan sebel hahaha. Bukan iri ya, tapi karakternya terasa kurang mandiri.

Untuk visual effect, rasanya ngga perlu meragukan sutradara Michael Bay ya, selalu membuat decak kagum. Gw suka semua visual effect-nya, bahkan di versi terakhir yang kemarin ditonton pas anniversary gw #eeeaaa. Gw suka detail effect-nya, termasuk transformasi masing-masing karakter robot, mau itu autobot, megatron, dan decepticon. Apalagi suara hantaman robot-robot ini pas berkelahi, serasa hidup. Karakter yang paling disuka ya Optimus Prime dan Bumblebee. OP jelaslah kenapa gw suka, berkuasa dan punya leadership (pengen deh ngajak nonton orang yang bilangin gw soal leadership, ini nii baru leadership, bisa diplomasi dengan logika dan bukan semata-mata senior....eh kok jadi curhat), cuma suaranya terlalu VO (voice over) talent hehehehe. Bumblebee itu kayak gw banget, panasan, tapi keren #eeeaaa 

Soal jalan cerita, biarpun kemana-mana arahnya ya, tapi cerita tentang hubungan ayah dan anak antara Cade Yeager (Mark Wahlberg) dan Tessa (Nicola) bikin mikir juga. Gw kepikiran kira-kira bakal gimana ya anak gw pas ABG besok? Apa ya iya diam-diam punya pacar ? Gimana kalau pacarnya pebalap atau bibit bobot bebetnya ngga oke ? Gimana juga anak gw cuma diurus papanya, akankah sukses ? Damn! Kadang gw terlalu serius ya mikirin film hahaha. Cerita ini sebenarnya biasa banget dan kurang menguras emosi, apalagi di saat bersamaan gw teralihkan dengan cerita lainnya di film Transformers : Age of Extinction ini. Nah, klimaks film ini ada di moment pertarungan antara Autobots dengan Decepticon, dimana keluarga kecil ini (Cade dan Tessa) membela OP dan teman-temannya. Agak lebay dan tertebak sii, tapi gw suka moment dramanya hahahaha. Lebih drama lagi, Optimus Prime bilang dong "Lindungi keluargamu, supaya mereka bisa jadi lebih baik". Eits, gw suka loh sama quote ini! 

Terakhir, komentar gw soal begitu komersilnya film ini. Saking komersilnya, ada bagian-bagian yang rasanya kurang digarap maksimal dan bikin gatel munculnya pendapat "ya gitu aja" alias ngga menjawab rasa kangen pencinta Bumblebee and the gank. Tapiiiii....rasanya film Transformers : Age of Extinction serius menggarap klien. Coba sebutkan adegan apa yang ada sponsornya ? Banyaaaaak euy...di awal film aja sudah ada Goodyear, Red Bull, Oreo, Victoria Secret, bahkan sampai Hongkong Tourism Board hahaha. Untuk sekedar pelepas lelah, film ini pas kok, apalagi kalau ditonton dalam versi 3D.

#transformers #movie #bumblebee #optimusprime #autobot 


*arti judul : Imperial Lamian : lumayaaan enaaak ;)

sebelum bekerja nulis blog dulu aja aaah..mau cerita apa ya? Hmmm...cerita soal pengalaman makan kemarin aja sama 2 sahabat gw, Nadine dan Ita Sari Utami yang sepanjang makan siang "digangguin" telepon dari klien,kantor dll. Ita...semoga diberi sabar makin besar ya ;)

Oke, kemarin gw cobain 1 tempat makan namanya Imperial Lamian di Grand Indonesia. Tempatnya ada di level 5, dengan setting tempat duduk khas makanan chinese, agak rapat satu sama lain, mayoritas kursinya kayu tanpa sandaran, tapi tetap enak dilihat. Masuk ke menu, hmmm menyajikan pork yeaaay..kegirangan di siang hari. Bukan ngga pernah makan pork, cuma pernah makan di resto model gini, tapi menunya non pork. Olahan menu pork ini juga macem-macem, mulai dimsum sampai menu utama. Di luar menu pork, tetap ada menu lain kok, ada aneka menu seafood, ayam dan bebek.

Pilihan gw dan 2 sahabat gw tentunya mixed yaa..pilihan dimsumnya Hakau isi udang, Cakue Udang Mayo, dan Tim Bakpao isi Babi Cincang. Nah penyajian Tim Bakpaunya lucu deh, dibentuk seperti kepala babi imut-imut hehehe. Buat rasa dan isi, semuanya manteb. Gw suka sama kepadatan udang yang ada di Hakaunya. Isi daging cincang babinya di Tim Bakpao juga sedep dan pas untuk ukuran dimsum. Cakwenya juga endeeess, andai saja ukurannya agak besar dikit dan jumlahnya dibanyakin hehehe.

Buat menu utama, gw pilih nasi goreng seafood (sesuai permintaan Nadine), tumis sapi lada hitam, kaylan cah bawang putih, dan belakangan nambah tahu goreng telur asin. Dari semuanya paling suka nasi gorengnya, rasanya endeees, ngga terlalu banyak minyak, udang dan cuminya juga lumayan banyak. Sapi lada hitamnya juga ngga terlalu pedas dan empuk. Nah, kalau tahu telur asinnya niy, coba porsinya agak besar dikit, pasti lebih endeees hehehe. Sayang kemarin ngga sempat cobain mie-nya. Kata Ita, mie-nya juga enak dan porsinya lumayan. Nah, tau kan siapa yang bikin gw makin suka menjajal tempat makan baru? hehehe...

Oops...kerja dulu yaaa..besok cerita lagi soal apa aja..oiya, gw cerita soal makanan bukan berarti ahli kuliner ya, cuma mau sharing aja..

#imperiallamian #grandindonesia #dimsum

*Imperial Lamian / Grand Indonesia East Mall 3a / 021-23580567*