Penjual Sepatu

Menyusuri jalan Sarinah ke Gondangdia malam ini,saya melihat pemandangan yang menyentuh hati.

Sepanjang jalan sama berpapasan dengan 2 orang laki-laki pedagang sepatu. Di bahu kiri, sebuah tas kain berukuruan besar dipanggulnya, sementara di lengan kanan kirinya ia meletakan beberapa jenis sepatu untuk dijajakan. Melihat mereka rasanya capeeeek banget. Saya yang tiap hari ngga membawa beban fisik sebesar itu saja seringkali mengeluh, mau ngeluh kebanyakan kerjaan, meeting ngga selesai-selesai atau kesal dengan bos yang kadang ngga mau tau sama kondisi kita. Tapi, sekejap saya membeku, apa kabar dengan para penjaja sepatu itu? Mereka menjajakan sepatu road to road sampai semalam ini dan mungkin pendapatannya tak sebesar yang saya dapatkan tiap bulan (ya walaupun gaji saya ngga besar-besar amat...tuh kan ngeluh lagi).

Kadang saya merasa hidup ini sebaiknya ngga melulu melihat ke atas. Ada banyak orang yang jungkir balik bekerja untuk sesuap nasi (mungkin juga hanya cukup untuk makan sehari-hari di warteg seadanya). Rasanya, mengejar mimpi dan menaikkan level hidup sah-sah saja,asalkan kita tak kemudian mengeluh dan lupa bersyukur. Munafik saya kalau saya tidak jujur pengen punya mobil, pengen bisa ngajak liburan ke luar negeri, pengen makan enak dan kemudian eksis disana-sini, pengen bisa sekolahin anak saya di sekolah bagus, dan bahkan sekedar membeli tas berharga jutaan.
Tapi...kemudian saya terdiam, mengejar semua itu tak harus ngotot dan menjatuhkan harga diri.

Bekerja benar (meski seringkali dipersalahkan dan dianggap kurang) dan membawa semua usaha kita dalam doa, saya rasa semesta dan Yang Maha Kuasa pun tidak akan diam dan membiarkan saya di level ini saja.

Berusaha,bersyukur dan percaya akan ada waktunya saya mencapai mimpi saya...tapi ingat,mimpi yang memang dipercayakan Tuhan pada kita.

#bersyukur #percaya