“Ya ampun, Ma! Mama kenapa sih malam-malam begini masih mancing aku ? … Aku habis kerja. Kalau kerjaan belum selesai, artinya aku harus lembur. Lagi pula, aku mau cerita sampai kapan pun Mama ngga bakalan ngerti …” (The Unexpected Surprise – Nina Andiana)

Jleeeb ! begitu rasanya membaca kutipan ini ada di salah satu cerpen di buku Autumn Once More. Tidak persis seperti itu, tapi kurang lebih saya pernah ada di posisi si tokoh dalam cerita itu, Mita. Bekerja sepanjang hari, berkutik dengan anak buah dan deal-deal penting di kantor, dan kini Mita harus pulang ke rumah Mamanya, untuk menginap dan menghabiskan waktu bersama sang Mama yang kebetulan akan berulang tahun. Mita bukan tipikal anak mama, dia lebih dekat dengan papa. Mita bahkan seringkali berdebat dengan mamanya, dan selalu ada sang papa sebagai penengah. Kini, saat Mita harus “bertugas” menemani mamanya, seperti ada rasa enggan. Apalagi seoarang mama, sudah pasti “bawal” bertanya dan mengingatkan Mita.

Tidak persis seperti cerita Mita, tapi sebagai perempuan bekerja, memang kami-kami ini terbiasa sibuk dari mulai melek (buka mata) sampai akhirnya malam menjelang. Saya, pekerja kreatif di sebuah radio yang harus siap dengan pekerjaan tak kenal waktu. Sementara di rumah ada buah hati saya yang masih lucu-lucunya dan terngah menikmati sekolah. Belum lagi suami dan ART yang selalu mengisi hari-hari saya, mulai dari menjaga suami tetap diperhatikan, sampai urusan budget belanja buat si embak. Nah, ritme ini terjadi dari senin sampai minggu, plus di weekend ada “kewajiban” menelepon orang tua yang kebetulan tinggal di luar kota. Apa yang terjadi ? baweeeeelnya luar biasa, apalagi kalau saya terlambat menelepon mereka. Tapi itulah cinta. Mereka begitu karena mereka cinta saya. Saya mungkin merasa tidak mendapatkan banyak cinta dari mereka, hidup terpisah kota, bahkan di masa muda tidak sempat tinggal berdekatan dengan mereka. Tapi, satu yang perlu diingat, tidak sedikit cinta dan pengorbanan mereka untuk saya, dan apa salahnya saya mendengar “kebawelan” mereka sebagai bentuk balasan cinta saya.

Cinta dan Cinta, itulah yang saya rasakan saat membaca Autumn Once More, kumpulan cerpen Metropop, Produksi Gramedia Pustaka Utama. Sengaja saya pilih buku ini karena saya ingin mencicip lagi cinta di tengah dinamika hari-hari saya. Lewat buku ini, saya seperti dicubit, "hey, cinta itu sederahana loh awalnya, dan ketika jadi rumit saat berjalan, itu seninya". Banyak kenangan yang muncul, misalnya di cerita Perkara Bulu Mata (Nina Addison). Bagaimana ternyata kita tidak pernah menyadari begitu memukaunya sahabat kita. Menyadari mungkin ada cinta didalamnya, dan kita terlalu takut merusak persahabatan itu hingga sekuat tenaga memendam rasa (hiks been there dan menyesal tak pernah mengungkapkannya).

Buku ini juga sangat kekinian, seperti mengerti probelmatika cinta di masa sekarang, salah satunya gara-gara status social media di cerita Love is a Verb (Meilia Kusumadewi). Cerita ini mengisahkan kisah cinta Rangga dan Timal. Timal, seringkali merasa tertohok dengan pacarnya sendiri, Rangga, yang lebih sibuk melayani “fans-fansnya” di social media, ketimbang peduli padanya di social media. Timal semacam kehilangan perhatian Rangga di dunia maya, Timal seperti merasa Rangga tak mengakui hubungan mereka di dunia maya, dan puncaknya Timal merasa sendiri di puncak keberhasilannya lagi-lagi di dunia maya. Jadi haruskah rasa cinta diumbar sebagai kata-kata di dunia maya ? Hiks, saya tertunduk mengakuinya, ada kalanya ingin pasangan kita menunjukkan rasa cinta dan romantisme ke seluruh mahluk di dunia maya. Bener ngga ? hayooo ngaku, dan rasanya wajar saja, karena tanpa romantisme yang perlu dijaga, hubungan juga akan hambar bukan ?

Nah, sebagai penutup kesan saya pada Autumn Once More, saya pilih cerita Her Footprints on His Hearts (Lea Agustina Citra). Cinta yang dewasa! Saya mungkin ngga seberani Ariana, yang berani merelakan pasangannya, Rendy, untuk “bergelut” dengan cinta di masa lalunya, sebelum hari pernikahan mereka. Saat sedang dinas, Rendy, bertemu dengan mantan pacarnya semasa sekolah. Ariana paham benar perasaan Rendy dengan si mantan. Ia pun harus menguatkan hati Rendy menemukan jabawan hatinya sendiri. So sweet ya, bagaimana akhirnya kita bisa bilang pasangan kita ya cinta kita, ngga peduli sama masa lalu.

Selain 4 cerita di atas, masih ada 9 cerita menarik laiinya di buku Autumn Once More. Sebagian besar menginspirasi, seperti  Jack Daniel’s vs Orange Juice (Harriska Adiati) “Cewek juga menginginkan cowok baik-baik buat jadi suaminya” atau Critical Evelen (Ika Natassa)semua orang berada di in the state of trying”

 Yuks rasakan cintamu…