Main Hati! "Hati-hati sama hatimu, apalagi kalau hubunganmu sudah lebih dari 5 tahun" #eeeaaa Itulah guyonan sore saya bersama teman-teman di kantor yang sudah menikah. Biasanya guyonan ini kita lempar ke teman-teman kantor yang galau sama hubungan cinta mereka. Entah itu galau mau putus, mau nikah, atau galau karena hubungan cintanya kelamaan. Tapi itu kenyataan kok, setelah lima tahun pacaran atau menikah, rasa bosan pasti dialam. Lebih mudah kalau masih pacaran, nah kalau sudah menikah apalagi punya anak, rasa bosan pastinya jadi masalah yang tidak mudah diatasi. Sedikit semi curhat dan ditambah lagi baca Main Hati punya Hilbram Dunar, makin bikin hati bimbang deh. Cerita-cerita yang ada di buku bercover merah ini memang bermata dua (menurut saya). Di satu sisi, pembaca bisa belajar trik-trik menghadapi kebosanan alias coba-coba 'nakal', atau sisi lain bikin pembaca mikir gimana ya caranya biar kebosanan cinta ini tidak berakhir tragis seperti sebagian besar cerita di buku ini.

Ada beberapa cerita yang saya suka di buku ini, salah satunya Logika (Jatuh) Cinta. Saya sempat merasa benar juga ya pernikahan merubah segalanya hehehe. Beberapa kutipannya pun menohok pembaca. Cerita ini berkisah tentang kehidupan cinta sekelompok lima anak muda yang bersama dalam The Gang Gong. Empat dari mereka sudah menikah dan punya problematika masing-masing. Ada yang menikah tanpa cinta, merasa kehilangan tujuan pernikahan, tak siap dengan komitmen satu cinta seumur hidup, hingga merasa tak ada lagi apa cinta. Sekarang, tinggal satu orang anggota The Gang Gong yang belum berani menikahi pacarnya, lagi-lagi karena belajar dari teman-temannya. Sepeti judulnya,cerita ini seperti ingin mempertanyakan logika cinta. Halooo...kalau buat saya cinta itu ngga sama dengan 1+1=2. Tapi cinta itu bisa punya banyak jawaban, dan cerita ini saya rasa cukup mewakili ketidaklogikaan cinta. Salah satu kutipan dari cerita ini yang saya suka adalah "Pernikahan menghilangkan keindahan pacaran". Hmmm benar adanya, ketika sudah menikah, keindahan pacaran terganti dengan keindahan punya anak dan keluarga. Tapi buat sebagian orang, keindahan pacaran terganti dengan rutinitas yang membosankan.

Cerita lainnya yang saya suka adalah I MissYou. Betapa cerita klasik pernikahan yang saya rasa pernah dirasakan setiap orang, meski dengan kadar yang berbeda-beda. Rasa jenuh dengan pernikahannya dengan Fenita, membuat Rama, sang vokalis band ternama, mencari pelarian ke dekapan perempuan lain. Adalah Sophie, seorang perempuan yang terlibat dalam promosi album Rama. Pertemuan demi pertemuan terjadi dan hubungan lebih dari sekedar pekerjaan pun terjadi. Rasa dingin pernikahannya dengan Fenita pun tergantikan dengan senyum dan desahan manis Sophie. Tapi, Rama mau tak mau harus menahan emosinya, ketika ia tahu Fenita mencoba mempertahankan pernikahan mereka. "ketika pertengkaran diakhiri dengan kalimat terserah kamulah, sesungguhnya bukanlah benci yang ada,tapi tidak peduli". Menurut saya, ini sangat mewakili kondisi pernikahan sesungguhnya, bahwa ketika titik hubungan sudah tidak peduli dan berada dalam payung pernikahan, memang yang ada adalah komitmen. Nah, ketika komitmen itu tidak ada, silahkan beradu dengan emosi dan egoisme yang tak pernah memuaskan nafsu manusia.

Main Hati, seperti berkaca pada diri sendiri, sekaligus cubitan buat yang berani ngomong CINTA. Buat kita yang sudah menikah, buku ini pasti sedikit banyak 'mencubit', hayoooo jangan denial ya. Boleh kok lari dari kejenuhan, tapi kalau tidak siap dengan kemungkinan terburuknya, mending pilih pelarian yang tidak melibatkan emosi dan nafsu seksual ya. Banyak hobi dan kerjaan yang menyenangkan kok, ketimbang memelihara hati n nafsu di tubuh lain. Karena apa ? hati dan nafsu di tubuh lain juga akan berujung ke rutinitas dan kejenuhan yang sama kok. Belum lagi kalau lawan hatinya cuma lihat kantong kita Jadi, buat apa terlibat di lingkaran setan yang sama. Nikmati saja lingkaran yang sudah ada.

Nah, buat yang belum menikah, wajib juga baca buku ini biar tahu menjaga hati #eeeaaa Pacaran itu terlihat simple dan menyengkan, tapi sesungguhnya ada tantangan menahan emosi dan egoisme didalamnya. Takut sama komitmen? Hmmmm selamat berlari tiada akhir dan menjadi manusia paling egois. Tapi, takut komitmen beda lho ya sama merasa tidak perlu pendamping hidup karena alasan MAMPU. Terkadang ada orang yang merasa tidak perlu ada yang mendampingi, karena sudah puas dengan pencapaian, bukan karena takut menghadapi 'kerepotan' atas 'kontrak' seumur hidup.

Akhir kata, selamat menikmati Main Hati. Dijamin, 21 cerita didalamnya bikin kita senyam-senyum sambil sesekali mengerutkan kening :)

Cinta tidak akan mati, tapi bisa pergi kalau tidak dijaga sepenuh hati (thanks Hilbram Dunar untuk cubitannya)