Singgah ...

“terminal, bandara, pelabuhan, stasiun : tempat persinggahan, keberangkatan, perhatian” Begitu kalimat yang ada di bagian belakang buku “Singgah”, buku kumpulan cerpen yang semua ceritanya mengambil setting di tempat-tempat persinggahan itu. Memang … kadang terminal, bandara, pelabuhan dan stasiun bisa jadi awal dari sebuah cerita atau luapan ide dan pikiran kita. Sayapun pernah merangkai mimpi dan punya cerita yang berangkat dari tempat-tempat itu. Setelah membaca buku ini, saya sempat terbawa ke masa lalu loh. Maklum, sejak kecil saya terpisah hidup dengan orang tua, jadi ada kalanya saya memang harus berpergian antar kota untuk bertemu dengan keluarga saya. Dan, moment ini selalu saya tunggu. Karena ingin bertemu orang tua ? hmmm tidak juga… Justru saya merasa punya semacam rasa ingin tau kira-kira ada cerita apa di perjalanan saya itu. Benar saja, saya pernah kenalan dengan seorang yang sempat mengisi hati saya, yang kebetulan ketemunya di terminal Rawamangun-Jakarta, pernah juga melepas 2 cinta penasaran saya di terminal Arjosari-Malang, atau sekedar berpisah dengan anak band di Stasiun Tugu-Yogyakarta setelah menghabiskan setengah hari perjalanan.

Tapi, mari kembali ke buku “Singgah” ya sebelum saya terbawa dalam ke kenangan yang menyenangkan itu (muka senyam-senyum). “Singgah”, menyajikan beberapa cerita yang sangat variatif, dengan gaya bahasa yang juga tidak monoton. Tadinya saya pikir buku ini melulu akan berkisah tentang cinta dan kegalauan. Nyatanya, banyak kisah didalamnya, baik itu tentang cinta, penantian dan harapan, keputusasaan dan bahkan liarnya imajinasi. Total cerita di buku ini ada 13 cerita.

Ada beberapa judul yang saya suka dari buku ini, yaitu Menunggu Dini (Alvin Adastia), Langit di Atas Hujan (Dian Harugelita), Rumah Untuk Pulang (Anggun Prameswari), dan Koper (Putra Perdana). Menunggu Dini, berkisah tentang seorang lelaki paruh baya yang setia menunggu pulang kekasih hatinya. Sementara Langit Di Atas Hujan, berkisah tentang perselingkuhan yang terasa enteng dijalani, tapi meninggalkan tangis di dalam hati. Kemudian Rumah Untuk Pulang, berkisah tentang ibu rumah tangga yang krisis identitas dan cinta. Terakhir, saya suka dengan Koper, yang jalan ceritanya tidak terduga, tapi alurnya membuat saya seperti ikut berlari-lari tak mau berhenti.

Langit Di Atas Hujan. Buat saya, ini adalah cerita yang sangat dekat dengan sehari-hari kita. Sebuah kesalahan yang nikmat, tapi sesungguhnya membuat sakit hati #eeeaaa Berikisah tentang Kinan dan cinta terlarangnya. Semuanya terjadi di kota Yogyakarta, di kurun waktu yang singkat. Rasanya seperti dicolek, begitu mudahnya sebuah hati terisi di kala sepi melanda, apalagi saat sebuah hubungan tidak lagi dibumbui percikan hati.

Rumah Untuk Pulang. Buat saya, penulis cerita ini berhasil menyelami perasaan seorang perempuan, tepatnya perempuan yang “terpaksa” menjadi ibu rumah tangga. Di dunia yang patriarkhi ini, perempuan memang “mau tak mau” menyandang beberapa “beban”. Perempuan  tidak saja harus membantu mencari nafkah, tapi juga semacam bertanggung jawab atas keberhasilan mendidik anak-anaknya. Kondisi lebih mengekang tentunya dialami oleh ibu rumah tangga yang tak punya power secara materiil dan harus dibebani tanggung jawab domestik. Wajar, terkadang para perempuan ini “iri” dengan perempuan lain yang punya kebebasan (yang saya rasa juga tidak terlampau bebas). Dan sangat wajar, ketika ada kalanya mereka berteriak mencari rumah untuk hati mereka.

“Singgah”, bisa jadi persinggahan kita sejenak untuk melepas penatnya pekerjaan. Bacaan yang enak dan mengalir. Selamat membaca.