Bambina : Menunggu Cinta Hingga ke Paris ...

 
“Bambina” … jujur, saya penasaran dengan buku yang satu ini, karena tergoda dengan covernya yang “mencolek” uncur makanan hmmmm … rasanya yummy-yummy nyaman gimana gitu. Ditambah lagi, kalimat-kalimat menggoda di bagian buku ini, bagaimana tokoh-tokoh didalamnya digambarkan seperti Appetizer, Soup, dan Main Course. Maklum, saya suka makan, dan buat saya sebuah novel dengan “colekan” makanan didalamnya bisa jadi sangat menarik. Sama seperti buku sebelumnya yang saya baca, Trave(love)ing, yang sukses membuat saya menikmati kaitan antara traveling dan move on…just Love It !

“Bambina”, sesungguhnya ingin menceritakan kisah Bambina Utama, seorang professional muda yang tengah bingung dengan pilihan hatinya. Ada dua laki-laki yang berhasil mengaet hatinya, Mr. Kim dan Leo. Mr. Kim adalah laki-laki Korea yang dewasa, mapan dan sopan. Sementara Leo adalah bule spontan berdarah Perancis dan Amerika Latin. Kisah yang menyenangkan dan penuh emosi ya, karena mempertemukan berbagai budaya. Yaa mungkin pembaca novel ini bisa mendapatkan sedikit “ilmu” tentang laki-laki beda negara itu.

Membaca lebih dalam novel ini, saya merasa sempat mencari dimana emosinya. Baru di bagian Bambina sembunyi-sembunyi “menguntit” Mr.Kim di supermarket, saya merasa deg-degan dan senyam-senyum sendiri. Baru tergambar konyolnya seorang perempuan kalau lagi jatuh cinta. Setelah itu emosi diaduk-aduk lagi dengan kedatangan Leo yang mengajak ke dufan. Tanpa mau spoiler, stop…ternyata emosi berhenti lagi setelah itu. Bisa dibilang “Bambina” di beberapa bagian mengaduk-aduk emosi, tapi di bagian lain biasa saja dan bahkan terasa datar dan terburu-buru. Beberapa detail di “Bambina” juga ada yang diulang-ulang. Harapan saya “colekan” kuliner menjadi bumbu percintaan antara Bambina, Mr. Kim dan Leo juga pupus. Ada beberapa ilmu kuliner di novel ini memang iya, tapi terkesan hanya sebagai sisipan yang kurang nge-blend dengan cerita.

Tapi, tidak ada yang salah dengan “Bambina”. Novel ini harus diapresiasi, apalagi ini adalah novel pertama dari Angie Wuyaniputri. Saya saja belum tentu berani menulis novel loh, karena novel itu punya syarat mengaduk-aduk emosi itu tadi. Maklum, saya lebih jago mengaduk emosi lewat omongan. Monggo dicek ya “Bambina”, novel tentang pilihan hati terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.