Pagi tadi saya akhirnya menghabiskan juga buku Trave(love)ing : Hati Patah Kaki Melangkah, setelah seminggu dapet pinjaman dari teman. Total buku ini saya baca cuma di dua kali kesempatan dan langsung “haaap” habis. Kalau saja tidak terpotong dengan kesibukan hari-hari mungkin buku ini bisa selesai 1 hari, dinikmati sambil rebahan dan senyam-senyum sendiri hahaha. 

 Jujur, awal membaca buku ini saya khawatir terjebak di kegalauan tipikal anak sekarang yang melulu terpuruk. Eh, ternyata agak beda loh! Semakin membaca lebih dalam, saya menemukan galau gemetz (istilah buatan saya hehehe) yang keluar dari 4 penulis buku ini Dendi, Grahita, Mia, dan Roy. Gemetz, karena saya suka dengan bagaimana mereka menuangkan kegalauan mereka untuk move on, terutama dalam kalimat-kalimat yang muda dan kreatif. Nah, kalau kita terbiasa dengan pantun, mereka ini punya #rhyme, sebenarnya pantun juga, cuma dalam bahasa Inggris. Cara masing-masing penulis becerita juga sangat mengalir apa adanya, walaupun saya yakin ada editan disana-sini.

Saya bahkan penasaran dengan Dendi, yang mengejar perempuan misteriusnya sampai Bangkok, termasuk jadian ngga akhirnya sama Riani. Sosok Grahita juga bikin penasaran, karena banyak teman-teman saya yang harus menderita karena masalah itu (semoga anak saya menemukan cintanya yang se-agama hehehe *serius*). Kalau saja Grahita baca review ini, pengen tahu akhirnya dia bener-bener move on atau balik lagi, tapi ada yang mengalah? Trust me, ortu dari pihak yang mengalah pastilah memendam luka sekaligus legowo luar biasa. Nah kalau Mia, mirip dengan masa lalu saya (malu deh), tapi untungnya saya menikahi sahabat saya sampai sekarang (pssst ada 1 sahabat lagi yang ngga sempet dipacari hihihi). Kalau Roy, ciri khas cowok banget, melupakan masa lalu dengan logika dan kesibukan.

Buku Trave(love)ing terbitan Gradien Mediatama ini juga secara tidak langsung memberi tips traveling loh, mulai dari model backpaker sampai traveling yang nyaman dan tertata. Beberapa tempat penting dan tujuan wisata, plus rute transportasi juga diceritakan disini. Yaa jangan berharap detail ya, ini kan cerita move on dengan bumbu traveling sebagai pelarian. Yuks aaahh dibaca saja buku ini dan kutiplah beberapa kalimat yang bisa memotivasi diri sendiri atau membuat temam-teman kita yang makin galau. Karena saat membaca buku ini saya lagi tidak galau,saya twit saja kutipan-kutipan dari buku ini dan ‘hoplaaa’ beberapa teman yang susah move on langsung tertohok...ujung-ujungnya ingin baca buku ini hehehe.

Buku Trave(love)ing : Hati Patah Kaki Melangkah bercerita tentang empat sahabat Dendi, Grahita, Mia, dan Roy yang berusaha move on dari cinta dan masa lalu mereka. Dendi melakukan traveling hingga Bangkok demi cinta yang baru. Grahita, berlibur ke Bali demi melupaka Mr.Kopi. Sedangkan Mia menerima perjalanan dinas ke Dubai demi melupakan sahabatku kekasihku, dan Roy memilih nenonton kesebelasan favoritnya favoritnya,Liverpool, di Malaysia.

Ingin kenalan dengan mereka,yuks sama-sama kenalan (karena saya juga belum kenalan hehehe) : @gelaph @dendiriandi @myaharyono @saputraroy

“Papap I Love You” ... sempat sedikit sebal dengan judul buku ini...hahahaha...kenapa? Maklum,saya adalah ibu = mom = mama yang mungkin agak egois dan inginnya 'love you' ditujukan hanya untuk mama semata. Ngga tau ya, sebagai orang yang mengandung 9 bulan, melahirkan dan bersusah payah merawat juga menjaga anak, rasanya saya selalu haus dengan kata i love u dari anak hahahaha...Tapi itu semua hanya pendapat saya loh ya, dan bukan berarti saya tidak suka dengan novel karya Sundari Mardjuki ini. Saya pribadi suka novel ini, cukup realistis dan menginspirasi, terutama bagi pasangan-pasangan muda di jaman sibuk seperti sekarang ini. Di beberapa bagian memang rasanya terlalu detail dan melebar, tapi itu masih bisa ditoleransi kok. Buktinya saya tetep enjoy baca novel ini dan melahapnya kurang dari seminggu. Ngga cuma itu beberapa bagian dari novel ini pun bisa dikutip dan dijadikan motivasi.

Awal membaca buku ini, saya seperti menemukan kenyataan yang terjadi di sekeliling saya. Tentang perbedaan karir suami dan istri, sifat suami yang cenderung bertahan dengan zona nyaman, sementara istri mengejar karir demi keluarga dan kenyamanan masa depan. Beberapa teman jelas mengalami kondisi ini, sama seperti yang dihadapi Rayna dan Bima. Tidak cuma itu, tetang pola asuh versus egoisme orang tua yang ada di novel ini juga cukup mewakili realitas yang ada di sekeliling kita. Beberapa part tentang kesempurnaan yang dituntut Rayna misalnya, atau rasa iri Bima yang justru membuat anaknya terabaikan, rasanya pernah dialami oleh pasangan orang tua (muda terutama) saat mengasuh buah hati mereka. Tidak cuma itu, kedua sosok Rayna dan Bima seperti menyampaikan misi dengan karakter mereka masing-masing. Di satu sisi, novel ini seperti ingin menyentil bagaimana kerasnya pola asuh dan target oriented bisa punya dampak yang tidak baik pada anak. Tapi, colekan lain juga coba disampaikan manakala kita tidak berusaha maju dan stuck di zona nyaman, maka kita justru menjadi pihak yang tidak mau menyadari kebutuhan yang sesungguhnya dihadapi.

Novel 'Papap I Love You' ini bercerita tentang Bima, yang harus menerima kenyataan bercerai dengan istrinya. Anak semata wayangnya, Kaka, berada di bawah pengasuhan Rayna, mantan istrinya. Seiring berjalannya waktu, Kaka akhirnya di bawah pengasuhan Bima. Ini membuat Bima harus siap sebagai single parent yang harus menyeimbangkan pekerjaan dan cintanya pada anak, termasuk saat ia mencoba membuka hati kembali.