ini dia partner saya tiap ada press screening film anak atau pagelaran tentang anak
#Nadine #MyPartner



Apa jadinya kalau empat orang berbeda karakter dengan nasib yang kurang beruntung  terpaksa menjadi satu keluarga ? Yup, We Are The Miller’s sebuah film komedi keluarga yang dibintangi Jennifer Aniston Jason Sudeikis, bercerita tentang keluarga terpaksa itu tadi. Mereka adalah David, pengedar obat-obatan terlarang yang berusaha tobat  Rose, sang penari erotis klub malam, Casey, gadis muda yang melarikan diri dari rumah dan Kenny, laki-laki remaja lugu kurang perhatian keluarga. Mereka bersepakat menjadi keluarga karena bujukan David yang terlilit hutang dengan pengedar narkoba. Demi melunasi hutangnya, ia harus menyelundupkan sejumlah ganja dari Meksiko ke Amerika Serikat. Sudah barang tentu David memberikan imbalan uang untuk masing-masing anggota keluarganya. Rose diminta David menjadi istrinya, Casey dan Kenny menjadi anak-anaknya yang manis.  Sudah bisa ditebak, misinya ini penuh kejutan tak terduga. Sebut saja gigitan laba-laba yang dialami Kenny hingga dikejar-kejar mafia narkoba.

Selain bisa melihat acting Jennifer Aniston, film We Are The Millers juga dibintangi dua pemain muda Emma Roberts dan Will Poulter.  Saya sangat menikmati karakter mereka masing-masing.  David sangat kuat dengan karakter money oriented dan egois. Rose adalah perempuan kuat yang meski harus mencari uang, tapi tetap punya pendirian. Sedangkan Casey, meletup-letup dan liar, serta Kenny digambarkan sangat lugu.

Bisa dibilang film ini sedikit vulgar. Percakapannya banyak diwarnai dirty jokes alias guyonan nakal atau liar. Tapi, itulah realitas kehidupan saat ini. Mau kita tutup mata dengan ketidakperawanan, yup itu terjadi  ! Mau kita malu mengakui tentang ciuman pertama, yup itu juga akan dilewati juga  !  Film ini semacam mengajak kita menunjukkan realitas inilah kita. Semua fenomena bisa jadi masalah, tapi ayo dibawa santai dan tetap harus ada solusi serius. Ini terlihat di adegan pertengahan ke belakang, dimana keluarga Miller ternyata mulai mempunyai ikatan dan kepedulian.

Yuks tonton We Are The Millers, dengan catatan ya … film ini cocok untuk keluarga yang mempunyai anak ABG alias remaja.

#ONAIR@iradiojakarta #INFOJALANJALAN26102013


Kapal, laut dan kehidupan melanglang benua … buat saya .. selalu bikin deg-degan, apalagi kalau orang terkasih kita jadi bagian didalamnya..

Dan benar saja, saat saya menonton Film Captain Phillips, jantung saya ngga berhenti berdebar dari awal sampai akhir film. Gimana ngga ? film arahan sutradara Paul Greengrass dengan pemain utama Ton Hanks ini dibuat berdasarkan true story. Kisahnya sangat riil, tentang pembajakan kapal kargo Amerika Maersk Alabama oleh perompak Somalia. Uniknya, film ini mampu membenturkan emosi antara Kapten Phillips yang tak punya pilihan selain melaut yang harus menjadi pemimpin untuk keluarga serta crew kapalnya, juga realitas para perompak Somalia yang sesungguhnya hanya ingin kehidupan lebih baik.

Buat saya, rasa khawatir dan ketengangan sudah terbentuk saat Kapten Phillips berpamitan dengan sang istri, saat harus melaut. Intensitas emosi makin terasa saat kapal yang dikomandani Kapten Phillips diincar perompak, sampai akhirnya para perompak mengambil alih kapal dan menyandera Kapten Phillips di kapal sekoci. Emosi makin diaduk saat militer Amerika Serikat mulai melakukan upaya penyelamatan. Digambarkan militer Amerika bahkan rela melakukan apa saja demi keselamatan warga negara dan di sisi lain digambarkan bagaimana menderitanya para perompak ini sesungguhnya.

Selain Tom Hanks, Film Captain Phillips dibintangi Barkhad Abdi,  aktor berdarah Somalia yang lahir di Amerika Serikat pemeran Muse, kaptennya para perompak. Tidak banyak kalimat yang akan saya katakan tentang film ini, karena terlalu sayang kalau saya ungkap semua. Tonton sendiri dan rasakan betapa berartinya pilihan apapun di hidup kamu ya. Jangan pernah menyerah mau sesulit apapun jalannya. 

#ONAIR@iradiojakarta #INFOJALANJALAN19102013



I-listeners / masih ingat dengan Flint ? // Yup / Flint sang inventor dari kota kecil Swalow Falls / yang menciptakan mesin pengubah air menjadi makanan // Petualangannya kini makin seru di Film Cloudy With a Chance of Meatballs 2 // Diceritakan / Swallow Falls kini tidak lagi sehat untuk masyarakat // Banyaknya makanan yang menumpuk dan hancurnya bangunan-bangunan / membuat warga Swallow Falls tak punya pilihan selain meninggalkan kota itu // Beruntunglah ada Chester V / inventor kenamaan yang punya tekad membersihkan kota itu // Chester V tidak lain adalah idola Flint // Seperti mendapat berlian / Flint ternyata juga ditawari bekerja di perusahaan Chester V // Meski belum bisa menjadi inventor utama / Flint diberi kesempatan untuk maju // Ia dikirim ke Swallow Falls untuk menemukan mesinnya / dan mencegah berkembangnya mahluk-mahluk buas yang dihasilkan mesin itu // Misi ini seharusnya dijalankan sendiri / tapi Flint justru berangkat bersama sang ayah / teman-teman lamanya / dan tentu saja Steve, monyet kesayangannya //

Film Cloudy With a Chance of Meatballs 2 kembali dengan ciri khasnya / apalagi kalau bukan aminasi dengan karakter makanan // Lebih serunya lagi / karakternya dipadukan dengan konsep binatang // Jadi / Anda akan melihat karakter laba-laba burger / kuda nil kentang / atau katak metega // Kota Flint pun berubah / menjadi hutan makanan yang berwarna-warni dengan keunikan didalamnya // Sebagai pengisi suara / ada Anna Faris, Neil Patrick Harris, dan Bill Hader // Dengan cerita sederhana dan mudah ditebak / jelas film ini ditujukan untuk konsumsi anak-anak dan keluarga // Tidak seperti film terdahulunya yang menebalkan sisi drama hubungan ayah dan anak / sekuel kali ini lebih menekankan pentingnya pertemanan dan kebersamaan // Hubungan Flint dan sang ayah juga disinggung / tapi hubungan mereka jelas lebih baik di film kali ini // Buat Anda yang punya rencana ngajak si kecil jalan-jalan / pilih Film Cloudy With a Chance of Meatballs 2 saja // Akan lebih seru lagi / kalau Anda memilih versi 3D-nya //

*script ini adalah format penulisan ala radio, boleh ya kali ini becerita sekalian sharing format penulisan script radio*



#ONAIR@iradiojakarta #INFOJALANJALAN12102013
minion…minion…minion…siapa yang ngga ingat sama mahluk kecil berwarna kuning mengemaskan di film Despicable Me ? Yup, mereka kembali lagi menghibur kita semua dengan aksi serunya. Di Film “Despicable Me 2”, para minion ngga cuma berwarna kuning loh…hmmm kok bisa? Bisa, soalnya mereka diculik oleh seorang penjahat lama yang ingin menguasai dunia. Penjahat ini merubah para minion menjadi mahluk ungu yang kejam. Diceritakan, Gru yang dulu menjadi penjahat paling disegani, sekarang sudah kapok. Gru memilih mengasuh 3 anak angkatnya dan menjadi pengusaha selai dan jeli. Sayangnya, niat ini tak berjalan mulus. Liga Anti Kejahatan ternyata bermaksud merekrut Gru dalam misi rahasia. Bersama dengan Lucy Wilde, Gru diminta mengungkap siapakah penjahat yang mencuri ramuan rahasia berbahaya. Berhasilkah Gru ?

Sukses meraih pendapatan lebih dari $ 540.000.000 dan menjadi film animasi terbesar ke-10 dalam sejarah AS di tahun 2010, mungkin saja terulang di tahun ini (sedikit sok tau sii). Soalnya, Film "Despicable Me 2" produksi Universal Pictures dan Illumination Entertainment's ini bisa dibilang lebih seru dari film terdahulunya. Porsi para minion lebih banyak dan mengemaskan, pesan dan gimmick untuk anak-anak juga lebih banyak. Lihat saja adegan awal ulang tahun Agnes, anak terkecil Gru, yang diwarnai peri langsung mencuri perhatian anak-anak. Di film ini, sisi dramanya juga lebih banyak, seperti saat si kecil meminta sosok ibu pada Gru. Bisa dibilang, film ini komplit drama dan komedinya. Pssst di film ini para minion juga memparodikan lagu "I Swear" loh. Yuks, nonton "Despicable Me 2", film ini disutradarai oleh putra NH Dini, Pieree Coffin. Sutradara lainnya yang terlibat adalah Chris Renaud, juga pengisi suara Steve carell, Kristen Wiig dan Russell Brand.

Psst tunggu review film ini di 89.6 FM I Radio Jakarta dan I Radio Network ya, Sabtu 6 Juli 2013, jam 18.15 WIB.

Pertengahan tahun selalu menjadi bulannya anak-anak. Kenapa ? selain karena liburan sekolah tentunya, film-film yang dirilis pun selalu memanjakan anak-anak, salah satunya “ Monster University”. Bercerita tentang Mike, monster lucu yang berambisi menjadi monster yang menyeramkan. Meski banyak pihak ingin mematahkan mimpinya itu, Mike tidak perah sedikit pun menyerah. Ia belajar tentang teknik-teknik menakuti, nekat menerobos pintu ke dunia manusia dan masuk ke University of Fear.

Di tempat ini, Mike bertemu dengan  James P Sullivan. Kebalikan dengan Mike, Sulley yang memang terlahir sebagai monster menakutkan, tidak pernah belajar untuk menjadi lebih baik. Di ujian penentuan, keduanya pun dikelaurkan dari mata kuliah itu. Mike dinilai tidak cocok untuk kelas menakuti, sedangkan Sulley dianggap tidak berkembang. Tapi, ternyata ada satu race atau pertandingan yang bisa membawa mereka kembali ke University of Fear. keduanya pun bersekutu. Hmmm...tapi ternyata mereka terpaksa harus berpartner dengan monster-monster yang tidak populer. Jadi behasilkah keduanya mengejar mimpi ? 

"Monster University" bsia dibilang sangat menghibur. Tidak saja karena karakter-karakternya yang lucu, film ini juga didominasi warna-warni yang cerah di sepanjang film, yang pastinya membuat segar di mata. Ngga cuma itu, ceritanya cukup ringan dan mudah dicerna anak-anak. Uniknya, pesan moral film ini bisa berlaku buat semua orang loh, yaitu tentang MAU BERMIMPI dan BELAJAR. Lihat aja salah satu adegan saat Mike dan teamnya berusaha mengerjakan tantangan saat di Perpustakaan, seperti membuka mata kita ... kalo haiii banyak akal dan cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Belum lagi ekspresi Sulley yang sombong dengan bakat menakutkannya, hmmm...seperti mencubit ya, ayolah jangan sombong deh jadi manusia...belajar itu harus setiap waktu !




“Ya ampun, Ma! Mama kenapa sih malam-malam begini masih mancing aku ? … Aku habis kerja. Kalau kerjaan belum selesai, artinya aku harus lembur. Lagi pula, aku mau cerita sampai kapan pun Mama ngga bakalan ngerti …” (The Unexpected Surprise – Nina Andiana)

Jleeeb ! begitu rasanya membaca kutipan ini ada di salah satu cerpen di buku Autumn Once More. Tidak persis seperti itu, tapi kurang lebih saya pernah ada di posisi si tokoh dalam cerita itu, Mita. Bekerja sepanjang hari, berkutik dengan anak buah dan deal-deal penting di kantor, dan kini Mita harus pulang ke rumah Mamanya, untuk menginap dan menghabiskan waktu bersama sang Mama yang kebetulan akan berulang tahun. Mita bukan tipikal anak mama, dia lebih dekat dengan papa. Mita bahkan seringkali berdebat dengan mamanya, dan selalu ada sang papa sebagai penengah. Kini, saat Mita harus “bertugas” menemani mamanya, seperti ada rasa enggan. Apalagi seoarang mama, sudah pasti “bawal” bertanya dan mengingatkan Mita.

Tidak persis seperti cerita Mita, tapi sebagai perempuan bekerja, memang kami-kami ini terbiasa sibuk dari mulai melek (buka mata) sampai akhirnya malam menjelang. Saya, pekerja kreatif di sebuah radio yang harus siap dengan pekerjaan tak kenal waktu. Sementara di rumah ada buah hati saya yang masih lucu-lucunya dan terngah menikmati sekolah. Belum lagi suami dan ART yang selalu mengisi hari-hari saya, mulai dari menjaga suami tetap diperhatikan, sampai urusan budget belanja buat si embak. Nah, ritme ini terjadi dari senin sampai minggu, plus di weekend ada “kewajiban” menelepon orang tua yang kebetulan tinggal di luar kota. Apa yang terjadi ? baweeeeelnya luar biasa, apalagi kalau saya terlambat menelepon mereka. Tapi itulah cinta. Mereka begitu karena mereka cinta saya. Saya mungkin merasa tidak mendapatkan banyak cinta dari mereka, hidup terpisah kota, bahkan di masa muda tidak sempat tinggal berdekatan dengan mereka. Tapi, satu yang perlu diingat, tidak sedikit cinta dan pengorbanan mereka untuk saya, dan apa salahnya saya mendengar “kebawelan” mereka sebagai bentuk balasan cinta saya.

Cinta dan Cinta, itulah yang saya rasakan saat membaca Autumn Once More, kumpulan cerpen Metropop, Produksi Gramedia Pustaka Utama. Sengaja saya pilih buku ini karena saya ingin mencicip lagi cinta di tengah dinamika hari-hari saya. Lewat buku ini, saya seperti dicubit, "hey, cinta itu sederahana loh awalnya, dan ketika jadi rumit saat berjalan, itu seninya". Banyak kenangan yang muncul, misalnya di cerita Perkara Bulu Mata (Nina Addison). Bagaimana ternyata kita tidak pernah menyadari begitu memukaunya sahabat kita. Menyadari mungkin ada cinta didalamnya, dan kita terlalu takut merusak persahabatan itu hingga sekuat tenaga memendam rasa (hiks been there dan menyesal tak pernah mengungkapkannya).

Buku ini juga sangat kekinian, seperti mengerti probelmatika cinta di masa sekarang, salah satunya gara-gara status social media di cerita Love is a Verb (Meilia Kusumadewi). Cerita ini mengisahkan kisah cinta Rangga dan Timal. Timal, seringkali merasa tertohok dengan pacarnya sendiri, Rangga, yang lebih sibuk melayani “fans-fansnya” di social media, ketimbang peduli padanya di social media. Timal semacam kehilangan perhatian Rangga di dunia maya, Timal seperti merasa Rangga tak mengakui hubungan mereka di dunia maya, dan puncaknya Timal merasa sendiri di puncak keberhasilannya lagi-lagi di dunia maya. Jadi haruskah rasa cinta diumbar sebagai kata-kata di dunia maya ? Hiks, saya tertunduk mengakuinya, ada kalanya ingin pasangan kita menunjukkan rasa cinta dan romantisme ke seluruh mahluk di dunia maya. Bener ngga ? hayooo ngaku, dan rasanya wajar saja, karena tanpa romantisme yang perlu dijaga, hubungan juga akan hambar bukan ?

Nah, sebagai penutup kesan saya pada Autumn Once More, saya pilih cerita Her Footprints on His Hearts (Lea Agustina Citra). Cinta yang dewasa! Saya mungkin ngga seberani Ariana, yang berani merelakan pasangannya, Rendy, untuk “bergelut” dengan cinta di masa lalunya, sebelum hari pernikahan mereka. Saat sedang dinas, Rendy, bertemu dengan mantan pacarnya semasa sekolah. Ariana paham benar perasaan Rendy dengan si mantan. Ia pun harus menguatkan hati Rendy menemukan jabawan hatinya sendiri. So sweet ya, bagaimana akhirnya kita bisa bilang pasangan kita ya cinta kita, ngga peduli sama masa lalu.

Selain 4 cerita di atas, masih ada 9 cerita menarik laiinya di buku Autumn Once More. Sebagian besar menginspirasi, seperti  Jack Daniel’s vs Orange Juice (Harriska Adiati) “Cewek juga menginginkan cowok baik-baik buat jadi suaminya” atau Critical Evelen (Ika Natassa)semua orang berada di in the state of trying”

 Yuks rasakan cintamu…
Main Hati! "Hati-hati sama hatimu, apalagi kalau hubunganmu sudah lebih dari 5 tahun" #eeeaaa Itulah guyonan sore saya bersama teman-teman di kantor yang sudah menikah. Biasanya guyonan ini kita lempar ke teman-teman kantor yang galau sama hubungan cinta mereka. Entah itu galau mau putus, mau nikah, atau galau karena hubungan cintanya kelamaan. Tapi itu kenyataan kok, setelah lima tahun pacaran atau menikah, rasa bosan pasti dialam. Lebih mudah kalau masih pacaran, nah kalau sudah menikah apalagi punya anak, rasa bosan pastinya jadi masalah yang tidak mudah diatasi. Sedikit semi curhat dan ditambah lagi baca Main Hati punya Hilbram Dunar, makin bikin hati bimbang deh. Cerita-cerita yang ada di buku bercover merah ini memang bermata dua (menurut saya). Di satu sisi, pembaca bisa belajar trik-trik menghadapi kebosanan alias coba-coba 'nakal', atau sisi lain bikin pembaca mikir gimana ya caranya biar kebosanan cinta ini tidak berakhir tragis seperti sebagian besar cerita di buku ini.

Ada beberapa cerita yang saya suka di buku ini, salah satunya Logika (Jatuh) Cinta. Saya sempat merasa benar juga ya pernikahan merubah segalanya hehehe. Beberapa kutipannya pun menohok pembaca. Cerita ini berkisah tentang kehidupan cinta sekelompok lima anak muda yang bersama dalam The Gang Gong. Empat dari mereka sudah menikah dan punya problematika masing-masing. Ada yang menikah tanpa cinta, merasa kehilangan tujuan pernikahan, tak siap dengan komitmen satu cinta seumur hidup, hingga merasa tak ada lagi apa cinta. Sekarang, tinggal satu orang anggota The Gang Gong yang belum berani menikahi pacarnya, lagi-lagi karena belajar dari teman-temannya. Sepeti judulnya,cerita ini seperti ingin mempertanyakan logika cinta. Halooo...kalau buat saya cinta itu ngga sama dengan 1+1=2. Tapi cinta itu bisa punya banyak jawaban, dan cerita ini saya rasa cukup mewakili ketidaklogikaan cinta. Salah satu kutipan dari cerita ini yang saya suka adalah "Pernikahan menghilangkan keindahan pacaran". Hmmm benar adanya, ketika sudah menikah, keindahan pacaran terganti dengan keindahan punya anak dan keluarga. Tapi buat sebagian orang, keindahan pacaran terganti dengan rutinitas yang membosankan.

Cerita lainnya yang saya suka adalah I MissYou. Betapa cerita klasik pernikahan yang saya rasa pernah dirasakan setiap orang, meski dengan kadar yang berbeda-beda. Rasa jenuh dengan pernikahannya dengan Fenita, membuat Rama, sang vokalis band ternama, mencari pelarian ke dekapan perempuan lain. Adalah Sophie, seorang perempuan yang terlibat dalam promosi album Rama. Pertemuan demi pertemuan terjadi dan hubungan lebih dari sekedar pekerjaan pun terjadi. Rasa dingin pernikahannya dengan Fenita pun tergantikan dengan senyum dan desahan manis Sophie. Tapi, Rama mau tak mau harus menahan emosinya, ketika ia tahu Fenita mencoba mempertahankan pernikahan mereka. "ketika pertengkaran diakhiri dengan kalimat terserah kamulah, sesungguhnya bukanlah benci yang ada,tapi tidak peduli". Menurut saya, ini sangat mewakili kondisi pernikahan sesungguhnya, bahwa ketika titik hubungan sudah tidak peduli dan berada dalam payung pernikahan, memang yang ada adalah komitmen. Nah, ketika komitmen itu tidak ada, silahkan beradu dengan emosi dan egoisme yang tak pernah memuaskan nafsu manusia.

Main Hati, seperti berkaca pada diri sendiri, sekaligus cubitan buat yang berani ngomong CINTA. Buat kita yang sudah menikah, buku ini pasti sedikit banyak 'mencubit', hayoooo jangan denial ya. Boleh kok lari dari kejenuhan, tapi kalau tidak siap dengan kemungkinan terburuknya, mending pilih pelarian yang tidak melibatkan emosi dan nafsu seksual ya. Banyak hobi dan kerjaan yang menyenangkan kok, ketimbang memelihara hati n nafsu di tubuh lain. Karena apa ? hati dan nafsu di tubuh lain juga akan berujung ke rutinitas dan kejenuhan yang sama kok. Belum lagi kalau lawan hatinya cuma lihat kantong kita Jadi, buat apa terlibat di lingkaran setan yang sama. Nikmati saja lingkaran yang sudah ada.

Nah, buat yang belum menikah, wajib juga baca buku ini biar tahu menjaga hati #eeeaaa Pacaran itu terlihat simple dan menyengkan, tapi sesungguhnya ada tantangan menahan emosi dan egoisme didalamnya. Takut sama komitmen? Hmmmm selamat berlari tiada akhir dan menjadi manusia paling egois. Tapi, takut komitmen beda lho ya sama merasa tidak perlu pendamping hidup karena alasan MAMPU. Terkadang ada orang yang merasa tidak perlu ada yang mendampingi, karena sudah puas dengan pencapaian, bukan karena takut menghadapi 'kerepotan' atas 'kontrak' seumur hidup.

Akhir kata, selamat menikmati Main Hati. Dijamin, 21 cerita didalamnya bikin kita senyam-senyum sambil sesekali mengerutkan kening :)

Cinta tidak akan mati, tapi bisa pergi kalau tidak dijaga sepenuh hati (thanks Hilbram Dunar untuk cubitannya)
“terminal, bandara, pelabuhan, stasiun : tempat persinggahan, keberangkatan, perhatian” Begitu kalimat yang ada di bagian belakang buku “Singgah”, buku kumpulan cerpen yang semua ceritanya mengambil setting di tempat-tempat persinggahan itu. Memang … kadang terminal, bandara, pelabuhan dan stasiun bisa jadi awal dari sebuah cerita atau luapan ide dan pikiran kita. Sayapun pernah merangkai mimpi dan punya cerita yang berangkat dari tempat-tempat itu. Setelah membaca buku ini, saya sempat terbawa ke masa lalu loh. Maklum, sejak kecil saya terpisah hidup dengan orang tua, jadi ada kalanya saya memang harus berpergian antar kota untuk bertemu dengan keluarga saya. Dan, moment ini selalu saya tunggu. Karena ingin bertemu orang tua ? hmmm tidak juga… Justru saya merasa punya semacam rasa ingin tau kira-kira ada cerita apa di perjalanan saya itu. Benar saja, saya pernah kenalan dengan seorang yang sempat mengisi hati saya, yang kebetulan ketemunya di terminal Rawamangun-Jakarta, pernah juga melepas 2 cinta penasaran saya di terminal Arjosari-Malang, atau sekedar berpisah dengan anak band di Stasiun Tugu-Yogyakarta setelah menghabiskan setengah hari perjalanan.

Tapi, mari kembali ke buku “Singgah” ya sebelum saya terbawa dalam ke kenangan yang menyenangkan itu (muka senyam-senyum). “Singgah”, menyajikan beberapa cerita yang sangat variatif, dengan gaya bahasa yang juga tidak monoton. Tadinya saya pikir buku ini melulu akan berkisah tentang cinta dan kegalauan. Nyatanya, banyak kisah didalamnya, baik itu tentang cinta, penantian dan harapan, keputusasaan dan bahkan liarnya imajinasi. Total cerita di buku ini ada 13 cerita.

Ada beberapa judul yang saya suka dari buku ini, yaitu Menunggu Dini (Alvin Adastia), Langit di Atas Hujan (Dian Harugelita), Rumah Untuk Pulang (Anggun Prameswari), dan Koper (Putra Perdana). Menunggu Dini, berkisah tentang seorang lelaki paruh baya yang setia menunggu pulang kekasih hatinya. Sementara Langit Di Atas Hujan, berkisah tentang perselingkuhan yang terasa enteng dijalani, tapi meninggalkan tangis di dalam hati. Kemudian Rumah Untuk Pulang, berkisah tentang ibu rumah tangga yang krisis identitas dan cinta. Terakhir, saya suka dengan Koper, yang jalan ceritanya tidak terduga, tapi alurnya membuat saya seperti ikut berlari-lari tak mau berhenti.

Langit Di Atas Hujan. Buat saya, ini adalah cerita yang sangat dekat dengan sehari-hari kita. Sebuah kesalahan yang nikmat, tapi sesungguhnya membuat sakit hati #eeeaaa Berikisah tentang Kinan dan cinta terlarangnya. Semuanya terjadi di kota Yogyakarta, di kurun waktu yang singkat. Rasanya seperti dicolek, begitu mudahnya sebuah hati terisi di kala sepi melanda, apalagi saat sebuah hubungan tidak lagi dibumbui percikan hati.

Rumah Untuk Pulang. Buat saya, penulis cerita ini berhasil menyelami perasaan seorang perempuan, tepatnya perempuan yang “terpaksa” menjadi ibu rumah tangga. Di dunia yang patriarkhi ini, perempuan memang “mau tak mau” menyandang beberapa “beban”. Perempuan  tidak saja harus membantu mencari nafkah, tapi juga semacam bertanggung jawab atas keberhasilan mendidik anak-anaknya. Kondisi lebih mengekang tentunya dialami oleh ibu rumah tangga yang tak punya power secara materiil dan harus dibebani tanggung jawab domestik. Wajar, terkadang para perempuan ini “iri” dengan perempuan lain yang punya kebebasan (yang saya rasa juga tidak terlampau bebas). Dan sangat wajar, ketika ada kalanya mereka berteriak mencari rumah untuk hati mereka.

“Singgah”, bisa jadi persinggahan kita sejenak untuk melepas penatnya pekerjaan. Bacaan yang enak dan mengalir. Selamat membaca.  

Singgah ...

by on February 17, 2013
“terminal, bandara, pelabuhan, stasiun : tempat persinggahan, keberangkatan, perhatian” Begitu kalimat yang ada di bagian belakang buk...
Pernahkah anda merasakan sulitnya mempertahankan cinta anda ? Apakah anda harus melalui kerasnya perjuangan itu seperti yang dialami Django ? Di film terbaru arahan Quentin Tarantino, “Django Unchained”, dikisahkan Django seorang budak berkulit hitam yang rela mati-matian mencari dan mempertahankan cinta sejatinya. Ia tak pernah punya kuasa atas hidupnya sendiri, lepas dari satu majikan ke majikan lain, dan terbelenggu rantai di sepanjang waktunya.

Belenggu ini mendadak terputus ! Django dibeli oleh seorang dokter gigi Dr. King Schultz, yang belakangan diketahui adalah pembunuh bayaran. Dijanjikan menjadi manusia bebas, Django pun menjadi melakoni profesi barunya memburu para penjahat demi uang. Meski bebas, masyarakat tetap melihat miring pada Django. Lagi-lagi, karena di era itu tidak ada orang kulit hitam yang boleh berada sejajar dengan kulit putih. Tapi ia tidak peduli, Django melakoni profesinya dengan tujuan utamanya mencari belahan hatinya, Broomhilda. Bersama partnernya, Django mengetahui keberadaan istrinya, yang ternyata menjadi budak di Candiland, milik Calvin Candie. Django pun harus bersandiwara demi mendapatkan cintanya itu. Tapi nyatanya, keadaan memanas. Django seperti terbawa kembali ke masa keterkekangannya. Berhasilkah Django membawa pulang belahan hatinya ?

Film Django Unchained ini dibintangi beberapa nama besar seperti Jamie Foxx, Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, dan Samuel L. Jackson. Bekal nama besar sutradara Quentin Tarantino dan bintang-bintang ini, sudah dipastikan anda akan mendapatkan tontonan film yang tidak mengecewakan. Buat anda yang kurang suka dengan kekerasan dan kesadisan, film ini jelas bukan pilihan. Tidak tanggung-tanggung, Tarantino terlihat sekali mengekspose kekejian di masa perbudakan itu. Penyiksaan pada kulit hitam, seperti cambukan, belenggu rantai dan siksaan fisik lainnya, ditampilkan bergitu vulgar. Begitu juga dengan action sarkastiknya, seperti menembak di depan anak sendiri dan dialog-dialog yang menyindir meski sesekali membuat penonton tersenyum, ditampilkan blak-blakan. Jadi, ajaklah partner yang tepat ya untuk menonton film Django Uncained ini.

 
“Bambina” … jujur, saya penasaran dengan buku yang satu ini, karena tergoda dengan covernya yang “mencolek” uncur makanan hmmmm … rasanya yummy-yummy nyaman gimana gitu. Ditambah lagi, kalimat-kalimat menggoda di bagian buku ini, bagaimana tokoh-tokoh didalamnya digambarkan seperti Appetizer, Soup, dan Main Course. Maklum, saya suka makan, dan buat saya sebuah novel dengan “colekan” makanan didalamnya bisa jadi sangat menarik. Sama seperti buku sebelumnya yang saya baca, Trave(love)ing, yang sukses membuat saya menikmati kaitan antara traveling dan move on…just Love It !

“Bambina”, sesungguhnya ingin menceritakan kisah Bambina Utama, seorang professional muda yang tengah bingung dengan pilihan hatinya. Ada dua laki-laki yang berhasil mengaet hatinya, Mr. Kim dan Leo. Mr. Kim adalah laki-laki Korea yang dewasa, mapan dan sopan. Sementara Leo adalah bule spontan berdarah Perancis dan Amerika Latin. Kisah yang menyenangkan dan penuh emosi ya, karena mempertemukan berbagai budaya. Yaa mungkin pembaca novel ini bisa mendapatkan sedikit “ilmu” tentang laki-laki beda negara itu.

Membaca lebih dalam novel ini, saya merasa sempat mencari dimana emosinya. Baru di bagian Bambina sembunyi-sembunyi “menguntit” Mr.Kim di supermarket, saya merasa deg-degan dan senyam-senyum sendiri. Baru tergambar konyolnya seorang perempuan kalau lagi jatuh cinta. Setelah itu emosi diaduk-aduk lagi dengan kedatangan Leo yang mengajak ke dufan. Tanpa mau spoiler, stop…ternyata emosi berhenti lagi setelah itu. Bisa dibilang “Bambina” di beberapa bagian mengaduk-aduk emosi, tapi di bagian lain biasa saja dan bahkan terasa datar dan terburu-buru. Beberapa detail di “Bambina” juga ada yang diulang-ulang. Harapan saya “colekan” kuliner menjadi bumbu percintaan antara Bambina, Mr. Kim dan Leo juga pupus. Ada beberapa ilmu kuliner di novel ini memang iya, tapi terkesan hanya sebagai sisipan yang kurang nge-blend dengan cerita.

Tapi, tidak ada yang salah dengan “Bambina”. Novel ini harus diapresiasi, apalagi ini adalah novel pertama dari Angie Wuyaniputri. Saya saja belum tentu berani menulis novel loh, karena novel itu punya syarat mengaduk-aduk emosi itu tadi. Maklum, saya lebih jago mengaduk emosi lewat omongan. Monggo dicek ya “Bambina”, novel tentang pilihan hati terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.

Pagi tadi saya akhirnya menghabiskan juga buku Trave(love)ing : Hati Patah Kaki Melangkah, setelah seminggu dapet pinjaman dari teman. Total buku ini saya baca cuma di dua kali kesempatan dan langsung “haaap” habis. Kalau saja tidak terpotong dengan kesibukan hari-hari mungkin buku ini bisa selesai 1 hari, dinikmati sambil rebahan dan senyam-senyum sendiri hahaha. 

 Jujur, awal membaca buku ini saya khawatir terjebak di kegalauan tipikal anak sekarang yang melulu terpuruk. Eh, ternyata agak beda loh! Semakin membaca lebih dalam, saya menemukan galau gemetz (istilah buatan saya hehehe) yang keluar dari 4 penulis buku ini Dendi, Grahita, Mia, dan Roy. Gemetz, karena saya suka dengan bagaimana mereka menuangkan kegalauan mereka untuk move on, terutama dalam kalimat-kalimat yang muda dan kreatif. Nah, kalau kita terbiasa dengan pantun, mereka ini punya #rhyme, sebenarnya pantun juga, cuma dalam bahasa Inggris. Cara masing-masing penulis becerita juga sangat mengalir apa adanya, walaupun saya yakin ada editan disana-sini.

Saya bahkan penasaran dengan Dendi, yang mengejar perempuan misteriusnya sampai Bangkok, termasuk jadian ngga akhirnya sama Riani. Sosok Grahita juga bikin penasaran, karena banyak teman-teman saya yang harus menderita karena masalah itu (semoga anak saya menemukan cintanya yang se-agama hehehe *serius*). Kalau saja Grahita baca review ini, pengen tahu akhirnya dia bener-bener move on atau balik lagi, tapi ada yang mengalah? Trust me, ortu dari pihak yang mengalah pastilah memendam luka sekaligus legowo luar biasa. Nah kalau Mia, mirip dengan masa lalu saya (malu deh), tapi untungnya saya menikahi sahabat saya sampai sekarang (pssst ada 1 sahabat lagi yang ngga sempet dipacari hihihi). Kalau Roy, ciri khas cowok banget, melupakan masa lalu dengan logika dan kesibukan.

Buku Trave(love)ing terbitan Gradien Mediatama ini juga secara tidak langsung memberi tips traveling loh, mulai dari model backpaker sampai traveling yang nyaman dan tertata. Beberapa tempat penting dan tujuan wisata, plus rute transportasi juga diceritakan disini. Yaa jangan berharap detail ya, ini kan cerita move on dengan bumbu traveling sebagai pelarian. Yuks aaahh dibaca saja buku ini dan kutiplah beberapa kalimat yang bisa memotivasi diri sendiri atau membuat temam-teman kita yang makin galau. Karena saat membaca buku ini saya lagi tidak galau,saya twit saja kutipan-kutipan dari buku ini dan ‘hoplaaa’ beberapa teman yang susah move on langsung tertohok...ujung-ujungnya ingin baca buku ini hehehe.

Buku Trave(love)ing : Hati Patah Kaki Melangkah bercerita tentang empat sahabat Dendi, Grahita, Mia, dan Roy yang berusaha move on dari cinta dan masa lalu mereka. Dendi melakukan traveling hingga Bangkok demi cinta yang baru. Grahita, berlibur ke Bali demi melupaka Mr.Kopi. Sedangkan Mia menerima perjalanan dinas ke Dubai demi melupakan sahabatku kekasihku, dan Roy memilih nenonton kesebelasan favoritnya favoritnya,Liverpool, di Malaysia.

Ingin kenalan dengan mereka,yuks sama-sama kenalan (karena saya juga belum kenalan hehehe) : @gelaph @dendiriandi @myaharyono @saputraroy

“Papap I Love You” ... sempat sedikit sebal dengan judul buku ini...hahahaha...kenapa? Maklum,saya adalah ibu = mom = mama yang mungkin agak egois dan inginnya 'love you' ditujukan hanya untuk mama semata. Ngga tau ya, sebagai orang yang mengandung 9 bulan, melahirkan dan bersusah payah merawat juga menjaga anak, rasanya saya selalu haus dengan kata i love u dari anak hahahaha...Tapi itu semua hanya pendapat saya loh ya, dan bukan berarti saya tidak suka dengan novel karya Sundari Mardjuki ini. Saya pribadi suka novel ini, cukup realistis dan menginspirasi, terutama bagi pasangan-pasangan muda di jaman sibuk seperti sekarang ini. Di beberapa bagian memang rasanya terlalu detail dan melebar, tapi itu masih bisa ditoleransi kok. Buktinya saya tetep enjoy baca novel ini dan melahapnya kurang dari seminggu. Ngga cuma itu beberapa bagian dari novel ini pun bisa dikutip dan dijadikan motivasi.

Awal membaca buku ini, saya seperti menemukan kenyataan yang terjadi di sekeliling saya. Tentang perbedaan karir suami dan istri, sifat suami yang cenderung bertahan dengan zona nyaman, sementara istri mengejar karir demi keluarga dan kenyamanan masa depan. Beberapa teman jelas mengalami kondisi ini, sama seperti yang dihadapi Rayna dan Bima. Tidak cuma itu, tetang pola asuh versus egoisme orang tua yang ada di novel ini juga cukup mewakili realitas yang ada di sekeliling kita. Beberapa part tentang kesempurnaan yang dituntut Rayna misalnya, atau rasa iri Bima yang justru membuat anaknya terabaikan, rasanya pernah dialami oleh pasangan orang tua (muda terutama) saat mengasuh buah hati mereka. Tidak cuma itu, kedua sosok Rayna dan Bima seperti menyampaikan misi dengan karakter mereka masing-masing. Di satu sisi, novel ini seperti ingin menyentil bagaimana kerasnya pola asuh dan target oriented bisa punya dampak yang tidak baik pada anak. Tapi, colekan lain juga coba disampaikan manakala kita tidak berusaha maju dan stuck di zona nyaman, maka kita justru menjadi pihak yang tidak mau menyadari kebutuhan yang sesungguhnya dihadapi.

Novel 'Papap I Love You' ini bercerita tentang Bima, yang harus menerima kenyataan bercerai dengan istrinya. Anak semata wayangnya, Kaka, berada di bawah pengasuhan Rayna, mantan istrinya. Seiring berjalannya waktu, Kaka akhirnya di bawah pengasuhan Bima. Ini membuat Bima harus siap sebagai single parent yang harus menyeimbangkan pekerjaan dan cintanya pada anak, termasuk saat ia mencoba membuka hati kembali.