Rise of The Guardians

My name is Jack Frost, no rules no responsibility. Begitulah sosok Jack Frost, seorang laki-laki muda yang punya keahlian membuat salju dan selalu asik bermain dengan dunianya sendiri. Jack tidak tahu mengapa ia dinamai begitu, dan mengapa tidak ada satu orang pun yang bisa melihat dirinya. Semua orang mengenalnya sebagai sebuah mitos. Kalau di sekitar kita ada salju dan dingin melanda, itu artinya “Jack Frost”. 300 tahun Jack menjalani kehidupannya ini dan membuat banyak anak-anak kecil di dunia bergembira saat musim salju. Tapi, semua itu berubah saat Easter Bunny menemuinya dan membawanya ke North Pole untuk bertemu The Guardians. The Guardians adalah sosok yang dikenal anak-anak kecil sebagai pemberi harapan. Mereka adalah Santa Claus yang selalu memberi hadiah di kala Natal, tooth fairy yang memberikan hadiah saat gigi anak-anak copot, Easter Bunny si kelici Paskah dengan telur-telur cantiknya, dan Sandy si pelukis mimpi indah bagi anak-anak. Jack Frost pun diminta menjadi The Guardian. Alasannya, sang bulan memilihnya. Ini tidak lantas diterima oleh Jack, karena prinsip hidupnya adalah no rules dan no responsibility tadi. Ia pun bertanya-tanya mengapa ia dipilih.

Seiring berjalan, Santa Claus berusaha meyakinkan Jack Frost. Tapi, Boogeyman alias mimpi buruk bergerak tidak kalah cepat. Boogeyman menghancurkan harapan anak-anak kecil akan kejaiban tooth fairy, kemudian menghancurkan mimpi-mimpi indah para anak kecil, hingga melumpuhkan Easter Bunny dan Santa Claus. Jack Frost sendiri masih bingung dengan identitasnya. Ia ingin mengetahui masa lalunya. Ketika harapan dan kepercayaan anak-anak kecil di seluruh dunia nyaris padam, The Guardians hanya bergantung pada Jack Frost dan seorang anak kecil, Jamie. Berhasilkan Jack Frost mengembalikan kepercayaan dan harapan seluruh anak di dunia dan mengalahkan Boogeyman ? dan apakah akhirnya Jack Frost menerima takdirnya menjad The Guardian ?

Kebetulan saya menonton “Rise of The Guardians” film produksi Dreamworks Animation yang disutradarai Peter Ramsey ini, bersama si kecilku, Nadine. Meski menontonnya saat malam hari (after office hour), ternyata Nadine enjoy loh dan tertawa-tawa di beberapa part film ini. Beberapa yang membuatnya terkesima adalah sosok tooth fairy yang cantik dengan warna dominan hijau yang memikat. Ia juga suka dengan sosok Easter Bunny yang menjadi mungil di bagian akhir film, dan tak lepas  tertawa saat adegan para guardians berlomba mengumpulkan gigi anak-anak di seluruh dunia. Buat saya pribadi, mengumpulkan semua karakter impian anak-anak dalam satu film ini boleh dibilang jitu memikat anak-anak. Tidak cuma itu, animasi yang menarik dan warna-warna yang cerah juga membuat film ini memikat dari awal hingga akhir. Aksi-aksi The Guardians pun seru, seperti naik kereta Santa Claus, terowongan bunny, hingga seluncur es yang dibuat Jack Frost terasa hidup, apalagi kalau anda menonton film ini dengan versi 3D. Hanya saja kalau dipikir-pikir, judul The Rice of Guardians rasanya ngga pas buat film ini. Kenapa ? Soalnya, film ini bercerita tentang kembalinya rasa percaya anak-anak dan perlawanan mereka pada rasa takut. Bukannya lebih pas dinamai Rise of The Faith ya ? Ahhh tapi itu hanya ide selewat saja kok, karena sesungguhnya film ini adalah adaptasi dari buku anak-anak The Guardians of Childhood karangan William Joyce.  film yang disuarakan Chris Pine, Hugh Jackman, Jude Law dan Isla Fisher ini bisa jadi pilihan film liburan bersama keluarga.

Ini dia trailernya

  Rise of The Guardians