Kisah Lainnya (2010 - 2012)


“Terkadang perlu kesalahan untuk mengingatkan sesorang”. Agak terlalu bijak kalimat awal saya,hmmm rasanya ngga juga kalau dihubungkan dengan buku yang baru saja selesai saya baca (dan akhirnya bisa dituangkan ke blog ini) "Kisah Lainnya" (catatan 2010 - 2012). Bagaimana publik dikejutkan dengan kasus Ariel Mei 2010 lalu, tentunya tidak akan pernah terlupakan. Tidak perlu rasanya kita ceritakan lagi hebohnya masa itu, yang bagi sebagian orang yang tersangkut didalamnya pun harus kehilangan 'harga diri’. Dari kejadian itulah Ariel membuka kisah di buku 'Kisah Lainnya'. Ia bercerita tentang pengalamannya di 'rumah' barunya, berkenalan dengan berbagai karakter mulai di rutan Bareskrim Polri hingga ke LP Kebon Waru Bandung, dari fisiknya yang sempat drop sampai mencoba bertahan dan berserah pada Yang Maha Kuasa. "Tuhan, jangan lupakan saya, jangan biarkan saya lepas tanpa arah".

Peterpan...nama besar ini seperti ditampar dengan kasus ini. Dari buku ini tergambar begitu terseoknya Peterpan sebagai rumah yang dihuni banyak orang. Para personil pun mau tidak mau puasa manggung dan tanpa job. Yang lebih sedih adalah orang-orang lain yang biasa menjadi crew dari Peterpan. Para personil rata-rata sudah punya pegangan pekerjaan lain, tapi bagi para crew ini menjadi perjuangan baru buat mereka. Para crew tanpa keahlian khusus yang paling susah mendapatkan pekerjaan.

Uki, cermat menggunakan uang sejak awal, meski ia juga ikut bergaya hidup boros. Ia membangun sebuah studio rekaman, Masterplan. Kini tempat itu banyak digunakan umum. Uki pun mencoba keahliannya dalam memproduseri band baru, Astoria.

Lukman, sempat bingung saat menghadapi masa 'puasa', apalagi hobinya mengutak-atik mobil membuat tabungannya tipis. Untungnya, produsen spare-parts AHRS memberinya kontrak endorsement.

Reza, mungkin bisa dibilang yang lumayan siap, meski melakoni juga masa-masa boros. Reza mengaku saat bersama Peterpan, banyak menghamburkan uang untuk membeli mobil mewah. Untuk bekalnya saat puasa manggung, Reza mempunyai bisnis clothing Fahrenheit dan studio musik di kawasan Cimuncang.

Ada yang unik dari Lukman dan Reza. Kasus ini seakan menyentil mereka untuk lahir baru menjadi pribadi yang lebih baik. Keduanya bergabung dalam Jamaah Tabligh. Pengalaman batin ini bahkan membawa Lukman menjalani perjalanan bathin hingga India. Aktivitas ini juga yang akhirnya mempengaruhi keluarnya album 'Suara Lainnya'. Uki dan David-lah yang bisa dibilang sebagai bidan dari lahirnya album ini. Uki dan David seperti menemukan energi bermusik baru. Padahal, sebelumnya David sempat tidak mau berhubungan dengan musik. Bagaimana tidak, lagu 'Separuh Aku' yang tidak lain adalah karyanya untuk Peterpan baru, terpaksa disimpan akibat kasus yang menimpa Ariel. Tidak cuma itu, David pun jatuh sakit dan mengalami near death experience. Jujur, saya sedikit meneteskan air mata saat di bagian buku ini diceritakan Uki mengunjungi David yang tengah sekarat. Begini kutipannya : "David, jalan hidup kamu masih panjang...Tuhan punya rencana lain untuk kamu..Hari ini bukan hari terakhir kamu..."

Seperti semua semesta bekerja...album 'Suara Lainnya' muncul sebagai jembatan menuju album 'Seperti Seharusnya'. Semua personil kembali dengan kemampuan musikalitas mereka yang makin dewasa, dan begitu juga Ariel. Ariel mengaku lebih banyak menjadi pengawal ide, pemberi masukan dan penyemangat. Meminjam kalimat sang penulis : "dulu saya sampai perlu menegangkan urat leher untuk membangunkan kreativitas teman-teman. belakangan saya meminta maaf".

Kalau saya diminta bercerita tentang buku ini memang rasanya tidak mau berhenti, apalagi saya membuat tulisan ini ditemani album Noah-Seperti Seharusnya. Mungkin sebelum menutup saya mau cerita sedikit tentang beberapa personil di bagian siapa dia :

Ariel : dulu punya kesulitan menulis lirik dalam bahasa  Indonesia. Salah satu lirik pertamanya diambil dari buku harian kakaknya.

Lukman : punya gaya panggung berdiri diam di salah satu sisi panggung. Ini efek dari tuntutan membawakan nada mirip dengan band aslinya. Gaya konsentrasi ini terbawa sampai sekarang.

Reza : sempat dijuluki "drummer pekcun", karena sering tampil dengan banyak band sebelum bertahan di Peterpan.

Uki : terobsesi membuat studio.

David : mengenal piano sejak SD dan mengawali karir sebagai lounge pianist di Hotel Grand Aquila. Akibat krisis moneter 1998, David banting tulang berkarir musik demi menghidupi keluarganya.

Rasanya cukup ya, cerita tentang buku 'Kisah Lainya'. Buku yang diproduksi bersama Musica Studio's dengan Kepustakaan Populer Gramedia ini memang agak kesana-kemari penulisannya. Tapi, secara keseluruhan buku ini tetap enak dibaca dan mengobati rasa kangen para sahabat Peterpan yang sekarang lahir baru dengan 'Noah'. Mungkin unsur banyaknya ide dan kepala, membuat ada beberapa hal diulang-ulang. Yaaa kalau menyangkut Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David rasanya itu sah-sah saja. Para sahabat pun rasanya makin mengenal idolanya. Hal lain yang saya suka di buku ini adalah ilustrasi gambar dan foto yang disisipkan didalamnya. Pembaca seakan diajak larut dengan suasana hati Ariel, sekaligus berbagi moment bersama Peterpan kala itu. Ada sketsa-sketsa Ariel saat menjalani masa-masa penahanan, dan ada juga foto-foto dokumentasi Peterpan.

Buat band-band yang tengah eksis, coba deh baca buku ini, supaya tidak arogan, boros dan merasa di atas terus. Ada kalanya khilaf bisa menghampiri dan semoga tak perlu membuat semua lini terpuruk karenanya.

"Jangan pernah berusaha menolak kesalahanmu..Terimalah itu sebagai bekalmu,untuk perjalanan panjangmu"