Skip to main content

Hermes Temptation


Apa pilihan anda di akhir minggu? Kalau saya berkutik antara pilihan wisata kuliner atau menghabiskan buku pilihan saya. Hmmm kalau soal anter anak sekolah itu kewajiban ya, bukan pilihan, jadi ngga masuk di pilihan ini hehehe. Nah satu yang saya pilih akhir minggu ini adalah menghabiskan bacaan saya 'Hermes Temptation'. Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan buku ini. Dari tampilan dan judulnya terasa sedikit 'mengintimidasi' ini adalah bacaan kelas A dan kalangan sosialita. Tapi berhubung buku ini tergeletak begitu saja di meja atasan saya dan sepertinya ybs tidak sempat membaca atau bahkan mendelegasikan crew-nya untuk membaca dan me-review, ya sudah saya baca untuk mengisi waktu.

Pertama membaca, hmmmm santai sekali duo penulis Alexandra Dewi dan Fitria Yusuf menulis buku ini. Memang..'Hermes Temptation' ini berkisah tidak lain tidak bukan adalah tentang mereka berdua yang 'kecanduan' tas Hermes yang harganya setara dengan sebuah mobil. Kesukaan mereka akan tas ini membawa mereka ke bisnis penyalur tas-tas cantik ini (begitu mereka mendeskripsikan ya kurang lebih), lengkap dengan suka dukanya. Cerita mereka di buku ini lucu-lucu, mulai dari pelanggan yang bawel, tidak percaya dengan keaslian tas yang dijual, sampai ditipu pembeli. Rasanya pengalaman Dewi dan Fitria ini bisa jadi pegangan buat para penjual on line dan group bbm. Duo cantik ini bahkan punya semacam aturan tidak tertulis tetang bagaimana melayani pelanggan. Misal ketika pembeli ingin merasakan kulit dari sebuah tas Hermes dianggap sudah membeli atau belum atau aturan tentang uang muka dsb. Uniknya, Dewi dan Fitria sendiri seperti 'dicubit' oleh pelanggan mereka. Maksudnya, karena mereka merasakan sulitnya menghadapi pelanggan, duo penulis ini bahkan berkata 'jadilah pelanggan yang santai'..itu ditujukan bukan cuma buat pelanggan mereka, tapi diri sendiri. Rasanya colekan itu juga pas kok ditujukan untuk para pembaca buku ini, yang saya rasa sebagian besar pasti fashionista dan shopaholic.

Cerita lucu juga dituliskan disini tentang perburuan mereka mencari tas-tas cantik itu. Mulai dari perjalanan ke Eropa dengan kelas deluxe economy, bolak-balik ke butik Hermes selama di Paris hingga melupakan berbagai keindahan di sekitar mereka, sampai bertemu dengan 'koneksi Paris' yang membantu perburuan mereka. Maklum untuk memesan tas-tas kulit ini ternyata banyak aturannya, seperti tidak semua orang boleh memesan produk kukit eksotis dan tiap orang hanya boleh memesan 2 tas per musim. Ngga cuma itu, kegemaran para perempuan akan produk ini, juga membuat Dewi dan Fitria seperti 'nempel' terus dengan blackberry mereka. Dewi dan Fitria bisa dengan sigap menjawab pertanyaan dan permintaan para pelanggannya. Ada kalanya mereka melewatkan separuh film yang sedang ditonton demi menjawab pertanyaan pelanggan atau bahkan ada teman yang berkata 'ngobrol denganmu seperti ngobrol sama tembok bata'. Dunia pun serasa runtuh ketika gadget mereka ini hang tak berdaya hahaha. Kalau buat saya, begitulah ketika hobi sudah mendominasi, sampai akhirnya tidak lagi fun dan cenderung membuat stress. Itu juga yand dirasakan Dewi, yang sempat ingin keluar dari bisnis ini. Tapi apa ya iya?  Jawaban dan keseruannya harus anda baca sendiri di buku 'Hermes Temptation' yaa.

Meski ditulis berasarkan kisah nyata, saya yakin banyak editan dan tak sepenuhnya buku ini menggambarkan 100% pribadi penulisnya. Tapi toh bukan itu juga tujuan buku ini dibuat ya, sedikit cerita sana-sini yang bisa menggambarkan penulis, saya rasa hanya bonus. Lika-liku dan cerita bisnisnya itu yang seru dan menginspirasi. Setidaknya beberapa pernyataan mereka pun layak dikutip.

Satu lagi, bayangan saya tentang kelas A yang 'terkadang tidak punya hati' ternyata juga disindir oleh Dewi dan Fitria. Misal pernyataan ini: 'Anda mungkin tidak punya tas Birkin atau Kelly - lantas kenapa? Jangan pernah membiarkan orang lain membuat Anda merasa tidak berharga hanya karena Anda tidak punya barang tertentu'..jelas ini pernyataan yang sangat menginspirasi. Saya pikir kedua penulis ini akan dengan sombongnya bercerita tentang dunia mereka, nyatanya mereka cukup imbang melihat fenomena Hermes ini. Meski saya bisa membayangkan gaya hidup mereka, tapi di buku ini saya justru melihat mereka menyampaikannya dengan sederhana dan tidak merasa paling di atas atau paling tau. Tidak hanya itu, sisi batin mereka pun ternyata cukup mengejutkan ya, bagaimana mereka bertutur tentang harapan, syukur dan mukjizat. Jujur saja, saya pikir tidak banyak kalangan atas yang peduli dengan hal-hal seperti itu.

Jadi apa kata saya soal 'Hermes Temptation' ? Biarpun saya jauh dari kemungkinan punya tas Birkin atau Kelly, buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama ini punya caranya sendiri untuk menginspirasi pembacanya. Selamat membaca :-)

Popular posts from this blog

The Boy Next Door : Selingkuh Itu Berujung Ke Kegilaan Lain Loh ...

Membaca judul film ini, The Boy Next Door, sepintas terpikir ini adalah film ala-ala cerita chicklit berkisah tentang cinta antara dua orang dewasa dengan bumbu drama. Apalagi karena pemerannya JLo, bisa jadi film ini punya alur cerita ringan seperti film The Backup Plan atau The Wedding Planner, yang pernah dibintangi juri American Idol ini. Tapi bayangan  berubah setelah menyaksikan sepintas trailer film ini. Ada bumbu thriller di film ini.

Film The Boy Next Door berkisah tentang  Claire, yang diperankan Jenifer Lopez, seorang istri yang tengah terombang-ambing dalam kekusutan rumah tanggannya, akibat ulah suaminya yang selingkuh dengan perempuan lain. Claire tinggal bersama anaknya, Kevin (diperrankan Ian Nelson).Claire mengajar sastra di SMA Kevin. Pada suatu kesempatan, Claire berkenalan dengan, seorang remaja yang tinggal di sebelah rumahnya, Noah (diperankan Ryan Guzman). Noah hidup sebatang kara dan merawat pamannya yang sudah sakit-sakitan. Dari sinilah Claire merasa iba dan k…

The Amazing Spiderman 2 : '...kamulah jalanku'

'kita tidak berada di jalan yang berbeda,kamulah jalanku' (The Amazing Spiderman 2)
Dhuuuuaaaaar itu salah satu quote paling manis yang ada di film terbarunya Andrew Garfield dan Emma Stone, The Amazing Spiderman 2. Yup, bisa saya bilang ini adalah film superhero yang paling mengharukan.. pssst orang yang nonton di sebelah saya kemarin aja sampai meneteskan air mata loh di salah satu adegan. Sesuai promo dan trailernya yang sudah banyak beredar sebelum akhirnya dirilis hari ini, sudah bisa ditebak The Amazing Spiderman 2 lebih menonjolkan sisi drama dari kehidupan seorang Peter Parker. Bahkan di bagian awal film sudah diceritakan kegalauan Peter dengan air mata yang mengelayut dimatanya.
The Amazing Spiderman 2 bercerita tentang Spiderman yang makin populer dan menjadi perdebatan antara pahlawan atau pengganggu di masyarakat. Sebagian masyarakat memujanya bak pahlawan dan bahkan fanatik padanya. Di sisi lain, Spiderman adalah Peter Parker yang punya kegalauan. Dia menyukai pe…

Menjajal Kuliner Pasar Kopro

Mengisi libur Lebaran...ngapain hayoooo? 
Pertama, jadi Inem! Sudah pasti itu! Sejak ART pulang 5 hari sebelum hari Lebaran, gw juga udah menjalankan peran ganda, sebagai mama, inem, dan perempuan bekerja eh...triple ya hehehe. Yup, sempat bawa si kecil ke kantor juga, yang untungnya kooperatif banget sama pekerjaan mamanya yang lagi mbludak dengan warna-warni naik iklan manual dan export ulang (ini soal iklan radio selama seminggu yang harus dipastikan on air hehehe).
Singkat cerita, seminggu lalu libur sudah dimulai....tapi partner gw masih masuk dong gegara ada konfirmasi pembayaran mahasiswa. Jadilah gw dan Nadine ikut ke kantor yang kebetulan ada di sekitar Semanggi. Daripada bengong dan main game seharian, gw iseng aja ngajak Antrie (temen gw, dulu penyiar yang sekarang jadi perempuan multi profesi hehehe) sarapan di Pasar Benhil....yang ternyata kosong melompong. Kalo dipikir-pikir ya wajar aja kosong, wong udah H-2 Lebaran hahaha. Lantas muncul ide dari Antrie ke Pasar Kopro yan…