Speechless, itu yang terjadi pada saya setelah menonton film “Life of Pi”, film arahan Ang Lee yang buat saya sukses membuka mata para penikmatnya tentang apa arti kehidupan, perjuangan dan bertahan hidup. Saya berkesempatan menonton film ini dalam versi 3D, dan itu membuat saya serasa di tengah lautan, sekaligus merasakan ketegangan tokoh utama film ini, Pi. Dikisahkan, Pi dan keluarganya berencana pindah dari India ke Kanada. Ayah Pi adalah pengusaha kebun binantang dan berencana menjual semua hewan-hewan yang  mereka miliki. Mereka pun melakukan perjalanan laut. Di tengah perjalanan, kapal yang mereka tumpangi karam akibat badai besar. Dari semua penumpang yang ada, hanya Pi yang berhasil menyelamatkan diri bersama dengan seeokor zebra, hyena tutul, kera, dan macan yang bernama Richard Parker. Seiring waktu, para binatang ini pun saling membunuh karena rasa lapar, dan tersisa Pi berdua dengan Richard Parker. Hari-hari Pi semakin mencemaskan, tidak saja ia selalu merasa terancam dengan bekal yang semakin menipis, tapi juga ancaman diterkam Richard Parker yang kelaparan. Disinilah keyakinan Pi diuji, sebagai orang yang percaya akan agama Hindu, Katolik dan memempelajari Islam, ada kalanya Pi merasa sangat sedih dan sengsara. Pada satu titik pun ia merasa pasrah dengan apa yang ingin dibuat Tuhan pada dirinya. Pi pun mau tidak mau harus bersahabat dengan binatang buas yang secara logika tidak mungkin diajak komunikasi.

Film Life of Pi diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Yann Martel. Film ini disebut sebagai film Ang Lee yang paling berisiko sejak Brokeback Mountain, yang membuatnya meraih penghargaan Oscar pada 2005 sebagai sutradara terbaik. Pembuatan film ini konon membutuhkan waktu selama empat tahun, terutama untuk menghasilkan scene tengah laut yang mengagumkan dalam 3D. Saya pribadi speechless dengan viasulisasi yang dihasilkan Ang Lee. Di awal film, saya sudah dibuat deg-degan dengan tatapan dan suara auman Richard Parker, sang macan. Rasanya seperti akan diterkam saja. Ngga cuma itu, hari-hari Pi di tengah laut pun divisualisasikan sangat dramatis dan indah. Di beberapa scene Ang Lee menyisipkan warna-warna yang memanjakan mata para penonton, seperti saat paus besar tiba-tiba muncul di tengah lautan, ubur-ubur dan berbagai ikan yang indah di bawah laut, hingga sebuah pulau carnivor yang terasa dingin dengan warna hijau yang dominan. Terlepas dari visualisasinya, film ini memang terasa sedikit bertele-tele di awal. Tapi semua itu terbayar dengan dialog yang ringan dengan sisipan guyonan, plus kutipan yang bisa menjadi insipirasi bagi siapa pun.

Saya mencatat beberapa yang begitu menginspirasi “Tuhan bekerja dengan cara yang misterius…Ketika aku merasa ditelantarkan, sesungguhnya Tuhan tetap menjagaku” 

Tidak cuma itu, rasa keimanan pun disinggung dalam film “Life of Pi”. Di awal film misalnya, ayah Pi sempat berkata “mempercayai banyak hal sekaligus, sama artinya dengan tidak percaya”. Ini dikatakan sang ayah saat melihat anaknya berusaha mengadopsi Hindu, Katolik dan Islam secara bersamaan. Bahkan Pi pun punya pendapat sendiri tentang iman, “Iman adalah rumah dengan banyak kamar dan keraguan di tiap lantainya”.

Persahabatan Pi dengan Richard Parker pun terasa sangat salam di fim ini. Bagaimana tidak, ternyata justru binatang buaslah yang membuat hati Pi patah  Dare I say I miss him? I do. I miss him. I still see him in my dreams. They are nightmares mostly, but nightmares tinged with love. Such is the strangeness of the human heart.” I still cannot understand how he could abandon me so unceremoniously, without any sort of goodbye, without looking back even once.

Terlepas dari semua itu, film yang dibintangi aktor India,  Suraj Sharma ini masuk dalam kategori wajib tonton. Dijamin, mata dan hati anda sangat terpuaskan.

trailer "Life of Pi" Life of Pi

REPOST dari blog lama :-)

pagi-pagi mellow sambil memandang foto gw bersama suami yang ada di meja kerja gw ... Mata kemudian melirik foto anak gw, Nadine ... putri tersayang yang membuat gw selalu bangga menjadi mama dan belajar mencintai, bertoleransi dan memaafkan (semoga selalu bisa memaafkan). Ampuuuun, efek baca dan review buku kumpulan cerpen Kahitna jadi begini deh. Sedikit kembali ke masa lalu, tapi tetap berusaha kembali ke dunia riil. Ada beberapa cerita yang membuat gw sedikit menghela nafas atau membuat gw tersenyum dan bahkan diam merenung. Seperti cerita "Permaisuriku" (yang jadi pilihan cerpen utama di review gw), cerita tentang sahabat tapi saling jatuh cinta. Beruntunlah Jingga dan Rendra sempat saling jujur ... gw ? Gw menikahi sahabat gw :-) tapi ... ahhh tak usah diteruskan, toh semua masa lalu.

Ada juga cerita tentang "Merenda Kasih" yang memgingatkan gw pada pesan seorang teman sebelum gw menerima lamaran. Memang ... ketika kita sedang kasmaran, rasanya seperti buta dan tuli saja logika kita. Emosi terus bermain hingga gw menikah. Tidak sebeuruk cerita di cerpen siii, tapi memang benar bahwa pernikahan itu harus dipikirkan masak-masak dengan logika dengan bumbu emosi (yang sebaiknya ngga dominan). Semoga Nadine saat akan menikah nanti mendengarkan nasehat mama n papanya.

Hmmm masih tentang buku cerpennya Kahitnya yang luar biasa membius ini yaaa ... gw suka dengan cerpen "Suami Terbaik". Love It so Much .... meski gw ngga yakin itu bisa terjadi di dunia riil. Diceritakan, seorang suami yang ditinggal istrinya untuk selama-lamanya (meninggal). Suami ini hidup bersama anaknya, dan selama itu juga si suami setia, tak mampu jatuh cinta meski sudah mendapat restu dari keluarga, dan selalu teringat akan si istri. I wish ... suami gw sampai kapan pun tak sanggup mendua, baik saat gw masih hidup atau kala umur sudah berhenti.

Ahhh semua ini hanya efek dari review buku :-) Mari kembali ke dunia riil dan siap-siap meeting program, mari sudahi semua kenanangan ini, maju dengan apa yang kita punya, setia dan bertanggung jawab dengan pilihan hidup kita.

---- ini sedikit review buku "Diantara Kebahagian, Cinta dan Perselingkuhan" yang terisipirasi dari judul lagu-lagu Kahitna (tayang di 89.6 FM I Radio Jakarta, Sabtu 6 Agustus 2011, jam 18.15 WIB, INFO JALAN-JALAN) ----

“Biarlah malu ini kutekan. Duduklah di sini, si singgasana cinta ku … “ Dua baris kalimat ini menjadi pembuka sebuah cerpen berjudul Permaisuriku // Dikisahkan Jingga dan Rendra yang menjalin persahabatan begitu rekat // Tiga tahun persahabatan mereka terbentuk / dan sepanjang itu pula Jingga semakin mengenal pribadi Rendra // Rendra adalah pria yang baik / tapi selalu kehilangan cinta // Sementara Jingga / selalu ada untuk mendengar semua cerita dan perjalanan cinta Rendra // Tidak hanya menjadi pendengar untuk sahabatnya ini / Jingga pun bak orang di balik layar / yang mengetahui benar kepribadian Rendra / mulai dari pembawaannya yang riang / kegemarannya mentraktir / bahkan membantu Rendra memilihkan hadiah yang tepat untuk kekasihnya // Semua kenangan itu selalu bermain di benak Jingga // Ia bahkan bisa mengulang dan mengingat semua kenangan indah bersama sahabatnya itu // Adakah cinta ? // Jingga tak mau memberi kesempatan untuk memikirkannya / ketika ia melihat bagaimana sahabatnya justru semakin tenggelam dalam kisah-kisah cintanya // Bagaimana dengan Rendra ? // Tibalah di suatu masa / kala ia merasa seperti terbentur tembok / dan tersadar … mengapa selama ini ia mencari cinta jauh dari hadapan dirinya / ketika sebenarnya dan seorang perempuan manis dan baik harti / yang sesungguhnya paham akan dirinya // Jingga / dialah sahabat dan cinta Rendra // Biarlah malu ini kutekan … biarlah kebodohanku selama ini ku tekan … dengan mengucap cintaku pada Jingga // 

Itulah sepenggal cerita “Permaisuriku” yang diambil dari buku 25 cerpen Kahitna “Di Antara Kebahagian, Cinta dan Perselingkuhan” // Cerpen itu adalah curahan hati Carlo Saba yang disempurnakan oleh salah satu penulis buku ini Kunto Wibisono // Entah itu cerita nyata Carlo Saba atau sekedar cerita temannya / yang jelas kisah ini dekat dengan kita bukan ? // Siapa yang menampik pernah jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri // Itulah Kahitna / ngga di lirik lagu / ngga di ide cerpen / semuanya begitu menyentuh hati / terutama perempuan // Meski gaya bahasa di beberapa cerpen terasa bukan seperti Kahitna yang bercerita / tapi secara benang merah / semuanya bisa membuat pembacanya tersenyum simpul, merenung dan bahkan menangis // Kenapa saya bilang begitu ? // Karena memang buku ini sangat riil // Sebut saja cerpen Suami Terbaik yang terinspirasi cerita Yovie Widianto // Cerpen ini bercerita tentang kesetiaan suami yang sudah ditinggal istrinya untuk selamanya // Atau cerpen Ngga Ngerti yang juga terinsiprasi dari Yovie Widianto // Cerpen ini bercerita tentang kekasih lama yang memyimpan cinta / bahkan ketika sang lelaki sudah menyerah untuk memperjuangkan cinta / hanya karena melihat perbedaan yang ada // Benar-benar jempol dua untuk Kahitna, Berlian Entertaiment dan PT Gramedia Pustaka Utama yang sudah menghadilkan buku ini // Mau belajar tentang cinta / atau sekedar mengenang cerita cinta anda ? / buku “Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan” bisa jadi pilihan anda // Tidak hanya cerita dari para personil Kahitna / cepen-cerpen di buku ini juga memuat ide dan kisah teman-teman terdekat Kahitna / seperti Indra Brasco dan Monaratuliu / Tia Ivanka / dan Ersa Mayori //

Apa pilihan anda di akhir minggu? Kalau saya berkutik antara pilihan wisata kuliner atau menghabiskan buku pilihan saya. Hmmm kalau soal anter anak sekolah itu kewajiban ya, bukan pilihan, jadi ngga masuk di pilihan ini hehehe. Nah satu yang saya pilih akhir minggu ini adalah menghabiskan bacaan saya 'Hermes Temptation'. Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan buku ini. Dari tampilan dan judulnya terasa sedikit 'mengintimidasi' ini adalah bacaan kelas A dan kalangan sosialita. Tapi berhubung buku ini tergeletak begitu saja di meja atasan saya dan sepertinya ybs tidak sempat membaca atau bahkan mendelegasikan crew-nya untuk membaca dan me-review, ya sudah saya baca untuk mengisi waktu.

Pertama membaca, hmmmm santai sekali duo penulis Alexandra Dewi dan Fitria Yusuf menulis buku ini. Memang..'Hermes Temptation' ini berkisah tidak lain tidak bukan adalah tentang mereka berdua yang 'kecanduan' tas Hermes yang harganya setara dengan sebuah mobil. Kesukaan mereka akan tas ini membawa mereka ke bisnis penyalur tas-tas cantik ini (begitu mereka mendeskripsikan ya kurang lebih), lengkap dengan suka dukanya. Cerita mereka di buku ini lucu-lucu, mulai dari pelanggan yang bawel, tidak percaya dengan keaslian tas yang dijual, sampai ditipu pembeli. Rasanya pengalaman Dewi dan Fitria ini bisa jadi pegangan buat para penjual on line dan group bbm. Duo cantik ini bahkan punya semacam aturan tidak tertulis tetang bagaimana melayani pelanggan. Misal ketika pembeli ingin merasakan kulit dari sebuah tas Hermes dianggap sudah membeli atau belum atau aturan tentang uang muka dsb. Uniknya, Dewi dan Fitria sendiri seperti 'dicubit' oleh pelanggan mereka. Maksudnya, karena mereka merasakan sulitnya menghadapi pelanggan, duo penulis ini bahkan berkata 'jadilah pelanggan yang santai'..itu ditujukan bukan cuma buat pelanggan mereka, tapi diri sendiri. Rasanya colekan itu juga pas kok ditujukan untuk para pembaca buku ini, yang saya rasa sebagian besar pasti fashionista dan shopaholic.

Cerita lucu juga dituliskan disini tentang perburuan mereka mencari tas-tas cantik itu. Mulai dari perjalanan ke Eropa dengan kelas deluxe economy, bolak-balik ke butik Hermes selama di Paris hingga melupakan berbagai keindahan di sekitar mereka, sampai bertemu dengan 'koneksi Paris' yang membantu perburuan mereka. Maklum untuk memesan tas-tas kulit ini ternyata banyak aturannya, seperti tidak semua orang boleh memesan produk kukit eksotis dan tiap orang hanya boleh memesan 2 tas per musim. Ngga cuma itu, kegemaran para perempuan akan produk ini, juga membuat Dewi dan Fitria seperti 'nempel' terus dengan blackberry mereka. Dewi dan Fitria bisa dengan sigap menjawab pertanyaan dan permintaan para pelanggannya. Ada kalanya mereka melewatkan separuh film yang sedang ditonton demi menjawab pertanyaan pelanggan atau bahkan ada teman yang berkata 'ngobrol denganmu seperti ngobrol sama tembok bata'. Dunia pun serasa runtuh ketika gadget mereka ini hang tak berdaya hahaha. Kalau buat saya, begitulah ketika hobi sudah mendominasi, sampai akhirnya tidak lagi fun dan cenderung membuat stress. Itu juga yand dirasakan Dewi, yang sempat ingin keluar dari bisnis ini. Tapi apa ya iya?  Jawaban dan keseruannya harus anda baca sendiri di buku 'Hermes Temptation' yaa.

Meski ditulis berasarkan kisah nyata, saya yakin banyak editan dan tak sepenuhnya buku ini menggambarkan 100% pribadi penulisnya. Tapi toh bukan itu juga tujuan buku ini dibuat ya, sedikit cerita sana-sini yang bisa menggambarkan penulis, saya rasa hanya bonus. Lika-liku dan cerita bisnisnya itu yang seru dan menginspirasi. Setidaknya beberapa pernyataan mereka pun layak dikutip.

Satu lagi, bayangan saya tentang kelas A yang 'terkadang tidak punya hati' ternyata juga disindir oleh Dewi dan Fitria. Misal pernyataan ini: 'Anda mungkin tidak punya tas Birkin atau Kelly - lantas kenapa? Jangan pernah membiarkan orang lain membuat Anda merasa tidak berharga hanya karena Anda tidak punya barang tertentu'..jelas ini pernyataan yang sangat menginspirasi. Saya pikir kedua penulis ini akan dengan sombongnya bercerita tentang dunia mereka, nyatanya mereka cukup imbang melihat fenomena Hermes ini. Meski saya bisa membayangkan gaya hidup mereka, tapi di buku ini saya justru melihat mereka menyampaikannya dengan sederhana dan tidak merasa paling di atas atau paling tau. Tidak hanya itu, sisi batin mereka pun ternyata cukup mengejutkan ya, bagaimana mereka bertutur tentang harapan, syukur dan mukjizat. Jujur saja, saya pikir tidak banyak kalangan atas yang peduli dengan hal-hal seperti itu.

Jadi apa kata saya soal 'Hermes Temptation' ? Biarpun saya jauh dari kemungkinan punya tas Birkin atau Kelly, buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama ini punya caranya sendiri untuk menginspirasi pembacanya. Selamat membaca :-)

Hermes Temptation

by on November 25, 2012
Apa pilihan anda di akhir minggu? Kalau saya berkutik antara pilihan wisata kuliner atau menghabiskan buku pilihan saya. Hmmm kalau soal...



“Indah” … itu kata yang saya pilih untuk mengawali tulisan tentang film Hello Goodbye yang baru semalam saya tonton. Indah, bukan karena tokoh utamanya memang bernama Indah, tapi film ini rasanya berhasil memikat saya akan Busan, Korea Selatan yang divisualisasikan sangat indah. Pertama kali film ini dibuka dengan adegan Indah ada di pelabuhan, saya sudah bisa merasa film ini akan indah dan kaya akan kutipan-kutipan romantis. Dugaan saya benar, seiring menonton saya sudah mencatat beberapa kutipan “cantik”. Yaaa wajar saja, penulis script film ini adalah Titien Wattimena, yang sudah tidak diragukan lagi jam terbangnya.

Film Hello Goodbye bercerita tentang kisah cinta Indah, seorang perempuan muda yang memulai karirnya dengan bekerja di KBRI di Busan, Korea. Hati dan jiwa Indah sesungguhnya tidak sepenuhnya di Busan. Ia selalu merindukan rumah dan memimpikan berada di negara dan kota yang ia impikan. Target, tujuan hidup dan cita-cita selalu menjadi pegangan Indah. Hal ini kadang justru melemahkannya. Indah seringkali tidak semangat bekerja, apalagi sebagian besar pekerjaannya hanya berkutat pada menemani ibu-ibu pejabat Indonesia yang tengah berkunjung ke Busan.

“Emangnya kamu ngga ada target dalam hidup kamu ?”

Kehidupan Indah berubah ketika Abi, seorang ABK asal Indonesia, terpaksa diturunkan di Busan karena mengalami serangan jantung di tengah perjalanan kapalnya. Oleh atasannya, Indah diminta memantau keadaan Abi, mencari tahu keluarganya, dan memulangkannya ke Indonesia. Disinilah konflik dan romantisme terjadi. Abi yang keras kepala sempat menyulitkan Indah. Tapi, Indah tak kalah keras.

 “Gimana kamu bisa sampai tujuan, kalau kamu ngga tau titik awalnya … “

Atas nama kerja dan tanggung jawab, Indah berhasil melunakkan Abi. Di dalam keras hatinya, sesungguhnya Abi merasa sendiri, begitupun dengan Indah. Keduanya pun saling mengisi, berbagi hari dan cerita bersama, hingga saat perpisahan itu terjadi. Apakah perpisahan iu sungguh terjadi ?

Seperti saya bilang di awal, saya suka film Hello Goodbye ini…sungguh…soalnya bikin saya pengeeeen banget ke Korea. Pengambilan gambarnya (bahasa kerennya sinematografi yaaa) bagus. Di film ini, Korea digambarkan indah, bersih, dingin, tapi sekelilingnya penuh kehangatan, plus sangat kekinian (apalagi fashionnya). Kalau soal wardrobe Indah, saya suka ! Meski sedikit gelap, tapi gayanya mewakili fashion Korea dengan sentuhan Indonesia. Pokoknya saya suka hehehe … Soal adegan, salah satu adegan yang suka adalah saat Indah dan Abi ke sebuah klenteng, dan saat Indah menyusuri jalan-jalan di sekitar pertokoan, INDAH dan menyenangkan !

Nah, kalau soal chemistry yang paling saya suka, ini susah. Ada beberapa yang saya suka, tapi kalau semuanya diceritakan jadi ngga seru. Saya suka saat Indah makan semacam martabak. Abi kala itu ingin meminta makanan itu sedikit, sekaligus meminta rokok. Semacam ada rasa sayang alami yang muncul begitu saja di adegan itu, rasanya pas dan ngga norak. Yaa mungkin faktor pemeran Indah dan Abi memang adalah pasangan di dunia nyata, membuat chemistry keduanya begitu pas. Dialog-dialognya juga terasa pas, seperti keras hati tapi sayang hehehehe (nulisnya sambil senyam-senyum sendiri inget masa muda hahahaha)

Terlepas dengan alur yang sedikit lambat, lokasi pengambilan gambar yang disitu-situ saja, film arahan Titien Wattimena ini tetap jadi salah satu film Indonesia favorit saya. Dibintangi Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto, film ini pun punya jaminan memuaskan mata dan hati. O iya, di film ini pencinta K-Pop juga bisa melihat acting Eru, penyanyi asal Korea yang bernama asli Sung-Hyun. Eru adalah penyanyi solo, sekaligus penulis lagu yang sukses melalui berbagai hitsnya seperti Black Glasses dan White Snow. Ia sudah berkarir sejak tahun 2005 dan kehadirannya di film ini jelas mendapat tempat tersendiri bagi pencinta K-Pop.

Bisa dibilang, film Hello Goodbye muncul di saat yang tepat. Drama romantis di musim hujan (hmmm ada hubungannya ngga ya) dengan bumbu Korea ini pasti mendapatkan perhatian yang besar. Apalagi, film ini juga sudah mencatat prestasi dengan diputar di festival film Busan, Korea Selatan 2012. Jadi, selamat menonton.

“Jangan marah sama perpisahan. Memaki perpisahan, sama saja mengutuk pertemuan …”

  Trailer Hello Goodbye Hello Goodbye
My name is Jack Frost, no rules no responsibility. Begitulah sosok Jack Frost, seorang laki-laki muda yang punya keahlian membuat salju dan selalu asik bermain dengan dunianya sendiri. Jack tidak tahu mengapa ia dinamai begitu, dan mengapa tidak ada satu orang pun yang bisa melihat dirinya. Semua orang mengenalnya sebagai sebuah mitos. Kalau di sekitar kita ada salju dan dingin melanda, itu artinya “Jack Frost”. 300 tahun Jack menjalani kehidupannya ini dan membuat banyak anak-anak kecil di dunia bergembira saat musim salju. Tapi, semua itu berubah saat Easter Bunny menemuinya dan membawanya ke North Pole untuk bertemu The Guardians. The Guardians adalah sosok yang dikenal anak-anak kecil sebagai pemberi harapan. Mereka adalah Santa Claus yang selalu memberi hadiah di kala Natal, tooth fairy yang memberikan hadiah saat gigi anak-anak copot, Easter Bunny si kelici Paskah dengan telur-telur cantiknya, dan Sandy si pelukis mimpi indah bagi anak-anak. Jack Frost pun diminta menjadi The Guardian. Alasannya, sang bulan memilihnya. Ini tidak lantas diterima oleh Jack, karena prinsip hidupnya adalah no rules dan no responsibility tadi. Ia pun bertanya-tanya mengapa ia dipilih.

Seiring berjalan, Santa Claus berusaha meyakinkan Jack Frost. Tapi, Boogeyman alias mimpi buruk bergerak tidak kalah cepat. Boogeyman menghancurkan harapan anak-anak kecil akan kejaiban tooth fairy, kemudian menghancurkan mimpi-mimpi indah para anak kecil, hingga melumpuhkan Easter Bunny dan Santa Claus. Jack Frost sendiri masih bingung dengan identitasnya. Ia ingin mengetahui masa lalunya. Ketika harapan dan kepercayaan anak-anak kecil di seluruh dunia nyaris padam, The Guardians hanya bergantung pada Jack Frost dan seorang anak kecil, Jamie. Berhasilkan Jack Frost mengembalikan kepercayaan dan harapan seluruh anak di dunia dan mengalahkan Boogeyman ? dan apakah akhirnya Jack Frost menerima takdirnya menjad The Guardian ?

Kebetulan saya menonton “Rise of The Guardians” film produksi Dreamworks Animation yang disutradarai Peter Ramsey ini, bersama si kecilku, Nadine. Meski menontonnya saat malam hari (after office hour), ternyata Nadine enjoy loh dan tertawa-tawa di beberapa part film ini. Beberapa yang membuatnya terkesima adalah sosok tooth fairy yang cantik dengan warna dominan hijau yang memikat. Ia juga suka dengan sosok Easter Bunny yang menjadi mungil di bagian akhir film, dan tak lepas  tertawa saat adegan para guardians berlomba mengumpulkan gigi anak-anak di seluruh dunia. Buat saya pribadi, mengumpulkan semua karakter impian anak-anak dalam satu film ini boleh dibilang jitu memikat anak-anak. Tidak cuma itu, animasi yang menarik dan warna-warna yang cerah juga membuat film ini memikat dari awal hingga akhir. Aksi-aksi The Guardians pun seru, seperti naik kereta Santa Claus, terowongan bunny, hingga seluncur es yang dibuat Jack Frost terasa hidup, apalagi kalau anda menonton film ini dengan versi 3D. Hanya saja kalau dipikir-pikir, judul The Rice of Guardians rasanya ngga pas buat film ini. Kenapa ? Soalnya, film ini bercerita tentang kembalinya rasa percaya anak-anak dan perlawanan mereka pada rasa takut. Bukannya lebih pas dinamai Rise of The Faith ya ? Ahhh tapi itu hanya ide selewat saja kok, karena sesungguhnya film ini adalah adaptasi dari buku anak-anak The Guardians of Childhood karangan William Joyce.  film yang disuarakan Chris Pine, Hugh Jackman, Jude Law dan Isla Fisher ini bisa jadi pilihan film liburan bersama keluarga.

Ini dia trailernya

  Rise of The Guardians

Rise of The Guardians

by on November 22, 2012
My name is Jack Frost, no rules no responsibility . Begitulah sosok Jack Frost, seorang laki-laki muda yang punya keahlian membuat salj...

“Terkadang perlu kesalahan untuk mengingatkan sesorang”. Agak terlalu bijak kalimat awal saya,hmmm rasanya ngga juga kalau dihubungkan dengan buku yang baru saja selesai saya baca (dan akhirnya bisa dituangkan ke blog ini) "Kisah Lainnya" (catatan 2010 - 2012). Bagaimana publik dikejutkan dengan kasus Ariel Mei 2010 lalu, tentunya tidak akan pernah terlupakan. Tidak perlu rasanya kita ceritakan lagi hebohnya masa itu, yang bagi sebagian orang yang tersangkut didalamnya pun harus kehilangan 'harga diri’. Dari kejadian itulah Ariel membuka kisah di buku 'Kisah Lainnya'. Ia bercerita tentang pengalamannya di 'rumah' barunya, berkenalan dengan berbagai karakter mulai di rutan Bareskrim Polri hingga ke LP Kebon Waru Bandung, dari fisiknya yang sempat drop sampai mencoba bertahan dan berserah pada Yang Maha Kuasa. "Tuhan, jangan lupakan saya, jangan biarkan saya lepas tanpa arah".

Peterpan...nama besar ini seperti ditampar dengan kasus ini. Dari buku ini tergambar begitu terseoknya Peterpan sebagai rumah yang dihuni banyak orang. Para personil pun mau tidak mau puasa manggung dan tanpa job. Yang lebih sedih adalah orang-orang lain yang biasa menjadi crew dari Peterpan. Para personil rata-rata sudah punya pegangan pekerjaan lain, tapi bagi para crew ini menjadi perjuangan baru buat mereka. Para crew tanpa keahlian khusus yang paling susah mendapatkan pekerjaan.

Uki, cermat menggunakan uang sejak awal, meski ia juga ikut bergaya hidup boros. Ia membangun sebuah studio rekaman, Masterplan. Kini tempat itu banyak digunakan umum. Uki pun mencoba keahliannya dalam memproduseri band baru, Astoria.

Lukman, sempat bingung saat menghadapi masa 'puasa', apalagi hobinya mengutak-atik mobil membuat tabungannya tipis. Untungnya, produsen spare-parts AHRS memberinya kontrak endorsement.

Reza, mungkin bisa dibilang yang lumayan siap, meski melakoni juga masa-masa boros. Reza mengaku saat bersama Peterpan, banyak menghamburkan uang untuk membeli mobil mewah. Untuk bekalnya saat puasa manggung, Reza mempunyai bisnis clothing Fahrenheit dan studio musik di kawasan Cimuncang.

Ada yang unik dari Lukman dan Reza. Kasus ini seakan menyentil mereka untuk lahir baru menjadi pribadi yang lebih baik. Keduanya bergabung dalam Jamaah Tabligh. Pengalaman batin ini bahkan membawa Lukman menjalani perjalanan bathin hingga India. Aktivitas ini juga yang akhirnya mempengaruhi keluarnya album 'Suara Lainnya'. Uki dan David-lah yang bisa dibilang sebagai bidan dari lahirnya album ini. Uki dan David seperti menemukan energi bermusik baru. Padahal, sebelumnya David sempat tidak mau berhubungan dengan musik. Bagaimana tidak, lagu 'Separuh Aku' yang tidak lain adalah karyanya untuk Peterpan baru, terpaksa disimpan akibat kasus yang menimpa Ariel. Tidak cuma itu, David pun jatuh sakit dan mengalami near death experience. Jujur, saya sedikit meneteskan air mata saat di bagian buku ini diceritakan Uki mengunjungi David yang tengah sekarat. Begini kutipannya : "David, jalan hidup kamu masih panjang...Tuhan punya rencana lain untuk kamu..Hari ini bukan hari terakhir kamu..."

Seperti semua semesta bekerja...album 'Suara Lainnya' muncul sebagai jembatan menuju album 'Seperti Seharusnya'. Semua personil kembali dengan kemampuan musikalitas mereka yang makin dewasa, dan begitu juga Ariel. Ariel mengaku lebih banyak menjadi pengawal ide, pemberi masukan dan penyemangat. Meminjam kalimat sang penulis : "dulu saya sampai perlu menegangkan urat leher untuk membangunkan kreativitas teman-teman. belakangan saya meminta maaf".

Kalau saya diminta bercerita tentang buku ini memang rasanya tidak mau berhenti, apalagi saya membuat tulisan ini ditemani album Noah-Seperti Seharusnya. Mungkin sebelum menutup saya mau cerita sedikit tentang beberapa personil di bagian siapa dia :

Ariel : dulu punya kesulitan menulis lirik dalam bahasa  Indonesia. Salah satu lirik pertamanya diambil dari buku harian kakaknya.

Lukman : punya gaya panggung berdiri diam di salah satu sisi panggung. Ini efek dari tuntutan membawakan nada mirip dengan band aslinya. Gaya konsentrasi ini terbawa sampai sekarang.

Reza : sempat dijuluki "drummer pekcun", karena sering tampil dengan banyak band sebelum bertahan di Peterpan.

Uki : terobsesi membuat studio.

David : mengenal piano sejak SD dan mengawali karir sebagai lounge pianist di Hotel Grand Aquila. Akibat krisis moneter 1998, David banting tulang berkarir musik demi menghidupi keluarganya.

Rasanya cukup ya, cerita tentang buku 'Kisah Lainya'. Buku yang diproduksi bersama Musica Studio's dengan Kepustakaan Populer Gramedia ini memang agak kesana-kemari penulisannya. Tapi, secara keseluruhan buku ini tetap enak dibaca dan mengobati rasa kangen para sahabat Peterpan yang sekarang lahir baru dengan 'Noah'. Mungkin unsur banyaknya ide dan kepala, membuat ada beberapa hal diulang-ulang. Yaaa kalau menyangkut Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David rasanya itu sah-sah saja. Para sahabat pun rasanya makin mengenal idolanya. Hal lain yang saya suka di buku ini adalah ilustrasi gambar dan foto yang disisipkan didalamnya. Pembaca seakan diajak larut dengan suasana hati Ariel, sekaligus berbagi moment bersama Peterpan kala itu. Ada sketsa-sketsa Ariel saat menjalani masa-masa penahanan, dan ada juga foto-foto dokumentasi Peterpan.

Buat band-band yang tengah eksis, coba deh baca buku ini, supaya tidak arogan, boros dan merasa di atas terus. Ada kalanya khilaf bisa menghampiri dan semoga tak perlu membuat semua lini terpuruk karenanya.

"Jangan pernah berusaha menolak kesalahanmu..Terimalah itu sebagai bekalmu,untuk perjalanan panjangmu"

Kisah Lainnya (2010 - 2012)

by on November 21, 2012
“Terkadang perlu kesalahan untuk mengingatkan sesorang”. Agak terlalu bijak kalimat awal saya,hmmm rasanya ngga juga kalau dihubungkan d...

Pulang kampung ! Yup, itu kebiasaan tahunan yang saya lakukan tiap akhir tahun dan selalu membawa kehebohan tersendiri. Maklum bukan saja alasan bertemu dengan kedua orang tua yang memang tinggal terpisah dengan saya dan keluarga, tapi juga wisata kuliner yang selalu jadi agenda tahunan. Aneh ya, padahal sudah bertahun-tahun hidup di daerah yang sama, kok tiap pulang selalu mencari kulineran yang itu-itu lagi. Sedikit cerita, kampung saya adalah Kota Malang. Saya tidak terlahir disana, tapi saya menghabiskan masa remaja di kota ini. Suasananya jauh berbeda dengan saat dulu saya sekolah SMP disana, tapi makanannya seperti selalu berhasil membuat saya kangen dan hommy.

Nah, sekarang saya tinggal di Jakarta, sejak tahun 2007. Kerinduan dengan makanan khas Malang atau Jawa Timuran kayaknya ngga afdol kalau harus nunggu akhir tahun. Jadilah saya selalu mencari referensi makanan khas Jawa Timur di kota Jakarta ini. Pernah punya langganan tahu telor enak di belakang Sarinah, bentuknya kaki lima semipermanen yang sudah bertahun-tahun terakhir tidak lagi ada. Pernah juga cobain “Ojo Lali” di Jl. Sahardjo (sekitar Tebet), enak ! Tapi saya akan cerita di lain waktu ya. Sekarang saya akan cerita tentang “Kantin Pak Hadi”. Kantin Jawa Timuran yang konon sudah melegenda ada di kawasan Menteng, dan sayangnya saya baru “ngeh” akhir-akhir ini. Padahal saya sudah kerja di Sarinah hampir sembilan tahun loh hahaha.

“Kantin Pak Hadi” ini adanya di Jl. KH Wahid Hasyim, mudahnya dekat dengan “Ikan Bakar Babe Lili” atau tidak jauh dari Stasiun Gondangdia Jakarta Pusat. Tempatnya sederhana. Di bagian luar kantin, ada berbagai tempat mengolah makanan yang jadi menu andalan di tempat ini, apalagi kalau bukan rujak cingur, tahun telor, rawon, dan teman-temannya. Berhubung saya penyuka tahu telor, saya pun langsung memesan tahu telor, sementara partner saya (suami sendiri sebenernya hehehe) memilih rujak cingur. Mantab, kami datang saat kantin tidak terlalu penuh dan pesanan cepat disajikan. Bagaimana penampakan dan rasanya ? Bikin tambah kangeeeeeen. Saya langsung jatuh cinta sama tahu telornya. Tahu telor adalah tahu yang diolah dengan telor, digoreng, kemudian disajikan dengan taburan toge kecil diatasnya, dan terakhir disiram dengan kuah kacang kental yang melimpah. Benar-benar melimpah dan saya harus bilang “wow” untuk kuahnya. Selain itu, kuah kacangnya juga sangat lembut dengan rasa petis yang “ngena” di lidah. Saya ngga akan kometar ala-ala pengamat kuliner ya, tapi saya memang jatuh cinta sama tahu telornya.
 
Mengintip rujak cingur milik partner saya. Tampilannya ngga kalah mengoda. Rujak cingur adalah rujak khas Jawa Timur yang berisi sayuran matang seperti kangkung, tauge, bengkuang, kol, dan timun, plus irisan cigur. Dicampur menjadi satu dengan bumbu atau kuah kadang dengan petis. Meski bukan pencinta rujak cingur, saya juga jatuh cinta dengan bumbunya. Petisnya pas dan bumbunya yang melimpah itu bikin “nyolek” terus tuh rujak cingur. Sepintas, cingurnya juga empuk di lidah.

Sebagai pelepas dahaga, saya pesan es kelapa muda. Disajikan dengan gelas besar, es kelapa muda ini makin melengkapi kerinduan saya sama kuliner kampung halaman. O iya, untuk kisaran harga di “Kantin Pak Hadi” ini  menurut saya standar harga makanan Jakarta. Misalnya rujak cingur dihargai Rp 20.000,- . Rata-rata harga makanan di tempat ini pun masih berkisar di angka itu.  

Nah, selain dua makanan yang saya coba tadi, ada beberapa menu yang gregetan pengen saya coba juga. Sebut saja tahun campun, rawon, dan soto sulungnya. Wah, saya ngga sabar bisa balik kulineran ke tempat ini, mungkin di kesempatan berikutnya sama keluarga besar ya atau sama teman-teman SMA yang kebetulan ada di Jakarta atau sama mantan (whuahahaha ini tidak dianjurkan ya)

Kantin Rujak Cingur
Pak Hadi Khas Surabaya
Jl. Wahid Hasyim 48
Jakarta Pusat
Telpon : 021- 391-0357/ HP: 08581-3333645
Buka : 08.00 – 21.00
kenalan yaaa ... sejak lahir saya diberi nama Bastina Dewi. Seiring pekerjaan orang menamai saya "Dewi Bastina". Hanya dibalik memang, tapi kata mentor saya di sebuah radio dulu, nama ini catchy (baeklah mari mengangguk sempurna).

Blog ini hanya cuatan kata disela-sela waktu saya bekerja dan beraktivitas sebagai pekerja media, pekerja event dan ibu rumah tangga. Banyak hal yang akan saya tuliskan disini memang direncanakan, tapi materinya adalah hal-hal yang saya dapat saat saya melewati atau melihatnya sepintas. Pilihan kuliner disini misalnya, tidak saya klaim sebagai kuliner terenak, tapi kuliner terenak a la saya. Begitu juga dengan tulisan lainnya...Kalau ingin meninggalkan komentar monggo loh, saya terbuka untuk diskusi, cerita, atau mungkin endorsement hehehe ...

Selamat membaca :-)

Dewi Bastina

kenalan yuks

by on November 20, 2012
kenalan yaaa ... sejak lahir saya diberi nama Bastina Dewi. Seiring pekerjaan orang menamai saya "Dewi Bastina". Hanya dibalik me...